5 Alasan Orang Rela Mengeluarkan Banyak Uang Untuk Beli Sepeda Lipat Brompton

Sepeda Lipat Brompton
Sepeda Lipat Brompton

What! Sepeda lipat Brompton ludes diborong oleh orang Indonesia dari toko-toko sepeda di Jerman. Begitu, sebuah kabar yang viral baru-baru ini. Entahlah, apakah berita itu hoax, lebay, atau memang benar terjadi. 

Bersepeda memang sedang digandrungi oleh orang Indonesia. Saat ini, bukan penggila gowes juga ikut-ikutan menggilainya. Mungkin, karena mereka percaya bahwa bersepeda dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga dapat terhindar dari penularan virus.

Akibatnya, mereka hype untuk membeli sepeda. Toko sepeda lalu kebanjiran pembeli. Segala varian dan harga sepeda diburu oleh mereka. Tidak terkecuali juga untuk sepeda-sepeda bermerek yang selangit harganya, seperti sepeda lipat merek Brompton.

Sepeda Brompton memang sepeda kelas premium. Dalam situasi yang normal, harganya sudah terbilang mahal, yaitu berkisar 30 juta hingga 40 juta rupiah. Namun, kini harganya menjadi begitu ridiculous, kenaikannya dapat mencapai 5 kali lipat. 

Dari logika supply-demand, kejadian seperti itu mudah untuk memahaminya. Bahwa, ketika demand terhadap sepeda Brompton membludak, sedangkan supply lambat dalam menyediakannya, maka harga pasti akan terkerek naik. 

Namun yang menarik di sini adalah, bahwa meskipun harganya naik seperti itu, cukup banyak orang yang sangat bersedia membayarnya. Mungkin, bagi sebagian besar khalayak, termasuk Saya, akan bingung dan heran melihat fenomena yang demikian.

Sebenarnya, ada sebuah fenomena yang hampir mirip seperti itu. Yaitu, ketika masyarakat memburu masker hingga langka di pasaran dan lalu membuat harganya melangit pada masa awal pandemi yang lalu. Namun, kondisi tersebut sangat berbeda urgensinya jika dibandingkan dengan perburuan sepeda Brompton saat ini. Karena, masker sangat dibutuhkan oleh semua orang untuk proteksi diri dari virus, sehingga banyak orang rela membayar berapapun harganya. Itu adalah masalah hidup atau mati, sedangkan dalam konteks sepeda lipat Brompton tidak demikian.

Lagi pula, banyak sepeda lain yang sejenis, dengan harga lebih affordable daripada sepeda Brompton. Namun, beritanya tidak terdengar sampai heboh layaknya sepeda Brompton yang ludes diborong dari toko-toko di luar negeri.

Salah satu analisa mengenai itu datang dari Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani. Dia mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia memang suka belanja dan sangat optimis. Sehingga, mereka tidak cukup khawatir ketika menghabiskan banyak uangnya untuk membeli produk-produk yang mungkin belum atau tidak cukup berguna dalam masa pandemi ini.

Tetapi Saya mempunyai perspektif yang berbeda. Saya melihat perilaku yang demikian sesuai dengan salah satu, atau lebih, dari lima kemungkinan alasan. Saya menghadirkan kemungkinan alasan-alasan tersebut dengan merujuk pada hasil riset consumer behaviour yang dilakukan oleh Ivaylo Durmonski

Kelima alasan orang rela mengeluarkan banyak uang untuk beli sepeda lipat Brompton dapat diuraikan seperti berikut ini.

Karena Mereka Sekarang Punya Banyak Uang

Alasan-alasan seperti “suka belanja” dan “sangat optimis” tidak akan berarti apapun, jika belum diiringi oleh alasan, “punya banyak uang”. Karena, yang sanggup membeli sepeda lipat Brompton adalah orang yang cukup punya uang untuk membayar harganya.

Tidak ada yang salah dengan alasan seperti itu. Apalagi, ketika beresonansi dengan anggapan bahwa, “manusia selalu berupaya memiliki kehidupan yang lebih baik dan menggapai kesenangan-kesenangan”. Sehingga, formula yang lazim terbentuk adalah, memiliki banyak uang sama dengan membeli barang yang lebih mahal sama dengan meraih kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan.

Namun, sebaiknya juga kita perlu memelihara sebuah pertanyaan kritis sebagai kontrol diri. Yaitu, apakah kita memang sungguh membutuhkan barang mahal tersebut?

Karena Tekanan Sosial

Kita tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas pemasaran yang masif saja, tetapi juga oleh orang-orang di sekitar kita. Misalnya, sahabat Anda menelepon dan memberitahu bahwa dia membeli sepeda lipat Brompton baru, lalu mengajak Anda bersepeda bersama.  Apa reaksi pertama Anda? Kegembiraan? Kecemburuan? Kebahagiaan? Perasaan bahwa Anda sudah tertinggal?

Pertama, Anda pasti akan memberi selamat kepadanya dan merasa turut bahagia untuknya.  Kemudian, saat Anda menutup telepon, Anda akan mulai berpikir: “Dia sudah membeli sepeda baru yang mahal, mungkin saya juga butuh sepeda baru?”

Karena Anda mulai merasa, bahwa sepeda Anda saat ini sudah tidak keren lagi, ketinggalan jaman. Anda sekarang membutuhkan sesuatu yang lebih baik, lebih upgrade. Anda sebenarnya tidak membutuhkannya, tetapi pikiran Anda memberitahu itu secara berbeda.

Karena Pengaruh Media Sosial dan Media Daring

Sudah dua atau tiga bulan belakangan ini, media-media sosial maupun daring marak menyebarkan dan memberitakan fenomena sepeda Brompton. Banyak public figure yang mengunggah foto atau video di media-media sosial ketika mereka bersepeda dengan sepeda Brompton. Sementara itu, media-media daring juga kerap mengangkat pemberitaan tentang sepeda lipat Brompton dari berbagai sudut pandang.

Ketika informasi-informasi tersebut membanjiri kanal-kanal yang biasa Anda gunakan, maka efeknya tidak akan jauh berbeda seperti yang disebabkan oleh alasan tekanan sosial. Selain itu, sepeda Brompton juga akan tertanam kuat di otak Anda. Sehingga, lain kali Anda pergi ke toko sepeda atau menelusurinya di toko-toko online, merek sepeda yang akhirnya akan Anda beli adalah yang telah diingat selama ini.

Karena Diskon

Belum lama ini, seorang selebritis dikabarkan telah tertipu oleh toko sepeda online saat membeli sepeda lipat Brompton. Dia tergiur dengan promosi diskon sebesar 60 persen. Harga sebelum diskon Rp 57 juta menjadi Rp 23 juta setelah diskon. Namun sayang, sepeda Brompton yang diinginkan tidak kunjung diterimanya, walau dia telah membayar lunas sesuai harga.

Saya cukup yakin bahwa trik diskon seperti itu juga sukses mempengaruhi dan menjadi trigger bagi orang lain, sehingga mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk beli sepeda lipat Brompton.

Karena Mereka Sedang Bosan

Alasan yang paling umum ketika kita membeli barang sebenarnya cukup sederhana, yaitu kebosanan. Teori tersebut menjadi terasa sangat relevan dengan kondisi psikologis masyarakat yang merasa bosan saat pandemi ini. 

Ketika mereka tidak memiliki hal lain untuk dilakukan di rumah, ketika mereka tidak memiliki tujuan yang jelas, mereka hanya perlu memperoleh sesuatu yang baru agar dapat selalu memeriahkan hari-harinya. Apalagi, ketika mereka, secara finansial, cukup mampu mendapatkannya.

5 Alasan Orang Rela Mengeluarkan Banyak Uang Untuk Beli Sepeda Lipat Brompton
Follow me

Leave a Reply