Antara Akhlak, Etika dan Moral; serta Materi Presentasi “Islamic Business Ideals” (PDF)

Etika dan Moral
Etika dan Moral

Etika dan moral seringkali dijumpai pembahasannya dalam konteks teori atau praktik ekonomi, bisnis, dan pemasaran. Sedangkan, akhlak relatif masih jarang dijelaskan kontribusinya.

Hal tersebut dapat dipahami karena akhlak merupakan produk dari ajaran agama yang bukan menjadi perhatian utama bagi teori atau praktik ekonomi, bisnis, dan pemasaran yang konvensional. Walaupun, hakekatnya akhlak juga adalah sebuah sistem nilai, sama seperti etika dan moral.

Namun, akan beda ceritanya ketika teori atau praktik ekonomi, bisnis, dan pemasaran kemudian memperoleh label “Islamic”, menjadi Islamic Economics, Islamic Business, dan Islamic Marketing. Maka, kehadiran akhlak di sana menjadi sangat esensial. Karena dalam Islam, akhlak menjadi tujuan dari beragama.

Akhlak, Etika, dan Moral, Apa Bedanya?

Perilaku etis merupakan pola laku yang didasarkan pada sistem nilai suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Standar penilaiannya, yaitu baik atau buruk, adalah menggunakan logika. Sehingga, membuatnya lebih dekat kepada sains atau filsafat. Lalu, jika membandingkannya dengan moral, maka etika lebih teoritis ketimbang moral yang lebih praktis. Etika lebih bersifat umum, sedangkan moral lebih bersifat lokal atau khusus.

Sementara itu banyak yang berpendapat, bahwa akhlak memiliki pengertian yang sama dengan etika dan moral. Karena, akhlak dianggap oleh mereka menggunakan sistem nilai yang serupa. 

Pendapat yang seperti itu tidak seluruhnya keliru. Adalah memang benar, bahwa akhlak mempunyai sistem nilai dengan menggunakan standar, terpuji atau tercela, yang mirip dengan seperti yang dipakai oleh etika dan moral, baik atau buruk. Namun, bila dikaji lebih jauh akan ditemukan perbedaan yang tipis di antara mereka.

Menurut Imam Ghazali dalam kitab Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, akhlak adalah pola laku yang sudah menetap di dalam jiwa seseorang, atau menjadi karakter, sehingga ia kemudian dapat dengan mudah melakukannya, tanpa merasa terpaksa, alamiah, natural, dan tidak artifisial. Misalnya, seseorang yang mempunyai akhlak yaitu komitmen, akan dengan mudah dan tanpa merasa terpaksa melakukannya dalam segala kondisi dan waktu. Berbeda halnya, jika orang tersebut melakukannya hanya untuk memenuhi standar etika dan moral saja, maka boleh jadi ia melaksanakannya dengan berat hati dan merasa terpaksa, serta mungkin juga menjalankannya dengan memilih kondisi dan waktu tertentu saja.

Dalam ajaran Islam, Allah SWT memerintahkan seorang Muslim untuk berlaku dengan akhlak yang terpuji. Selain itu, Muslim juga meyakini bahwa Allah SWT selalu mengawasi segala tingkah laku mereka, sekalipun dalam situasi yang sepi atau tidak ada seorang pun. Sementara itu, seseorang yang berperilaku etis dan bermoral belum tentu akan melakukan hal yang sama, jika dalam situasi tidak ada orang lain atau masyarakat yang mengawasinya.

Jadi secara sederhana, perbedaan antara akhlak dengan etika dan moral dapat dikatakan seperti demikian, bahwa seseorang berakhlak terpuji akan dengan ringan hati berperilaku etis dan bermoral, namun belum tentu seseorang berperilaku etis dan bermoral juga serta-merta terpuji akhlaknya.

Materi Presentasi

Tema tentang syariah dan etika dalam praktik bisnis yang Islami merupakan bab kedua bagi buku “The Principle of Islamic Marketing” karya Baker Ahmad Alserhan. Pada bab tersebut, Alserhan mengenalkan konsep dasar syariah, etika dengan perspektif Islam, dan nilai-nilai Islam dalam praktik bisnis.

Berikut adalah materi presentasi dari Chapter 2 Islamic Business Ideals.

 

Request Presentation Material: Islamic Business Ideals

Bagi Anda yang berminat untuk mendapatkan materi presentasi tersebut dalam bentuk file PDF, mohon agar mengisi formulir di bawah ini. Terima kasih.

Antara Akhlak, Etika dan Moral; serta Materi Presentasi “Islamic Business Ideals” (PDF)
Follow me

Leave a Reply