Pengendalian Syahwat: Inilah Jalan Sunyi Pilihan Islamic Marketing

Shop till you drop
Shop till you drop

Shop till you drop” merupakan tagline yang begitu populer di seluruh dunia. Artinya yaitu, ayo berbelanja sampai lelah secara fisik, hingga tidak mampu lagi berjalan ke atau di sekitar toko yang lain. Tagline tersebut marak diusung oleh pusat-pusat perbelanjaan modern, terutama menjelang atau selama musim liburan atau hari raya keagamaan.

Pusat-pusat perbelanjaan modern biasanya menggoda Konsumen dengan menawarkan diskon yang besar dan bebas berbelanja hingga larut malam, bahkan sampai pagi. Sebuah strategi pemasaran yang sungguh jitu. Ribuan Konsumen kemudian datang membanjiri pusat-pusat perbelanjaan tersebut dan membelanjakan uang mereka secara membabi-buta.

Tagline tadi juga sekali-kali muncul di luar musim liburan atau hari raya. Tujuannya, untuk membangun ‘kesadaran’ masyarakat bahwa gemar belanja bukan sesuatu yang ‘salah’. Melainkan, itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membangkitkan semangat ‘hidup’. Bahkan, dari kegemaran tersebut dapat memberikan kontribusi penting bagi perekonomian negara.

Fenomena seperti itu merupakan hanya salah satu contoh tentang bagaimana penyakit konsumerisme yang kompleks dan akut telah menjangkit pola pikir dan laku masyarakat global saat ini. Lantas, mengapa bisa seperti itu? Tentu saja, dapat disebabkan oleh bermacam faktor.

Namun, tidak sedikit yang lalu menyalahkan kepada praktik-praktik pemasaran yang selama ini berlangsung. Bahwa, praktik-praktik tersebut diyakini sudah terlampau jauh mempengaruhi pola pikir dan laku masyarakat, sehingga mereka menjadi begitu agresif dan posesif terhadap materi dan konsumsi. 

Melalui trik-trik pemasaran yang ‘licik’, masyarakat kerap kali terjebak untuk mengonsumsi banyak produk yang sesungguhnya tidak penting bagi kehidupan mereka. Akibatnya, lalu muncul beragam kebutuhan atau keinginan yang superfisial, gaya hidup yang materialistik, serta pola konsumsi yang berlebihan. Berbagai trik tersebut telah mengubah masyarakat yang ‘sosial’ menjadi masyarakat yang ‘konsumtif’.

Sesungguhnya, sudah sejak lama kalangan Sarjana Ilmu Pemasaran memahami dan mengkhawatirkan kondisi seperti itu. Termasuk, Begawan Ilmu Pemasaran, Philip Kotler. Kotler menilai bahwa kini Konsumen menginginkan Pemasar yang dapat memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya. Yaitu, Pemasar yang memahami bahwa kebutuhan Konsumen ternyata melampaui pemenuhan materi dan konsumsi semata.

Karena selama ini, dalam Teori Pemasaran yang konvensional selalu diajarkan bahwa, ‘Konsumsi harus dihidupkan selama mungkin’. Maka, Pemasar lalu dituntut untuk melakukan aktivitas promosi yang masif, agar dapat mereformasi, memodifikasi, serta memengaruhi keinginan, selera, permintaan dan pengeluaran Konsumen. Sehingga, pada akhirnya akan tercipta konsumsi dari banyak keinginan Konsumen yang tidak beralasan dan melenceng jauh dari kebutuhannya.

Pemasar fokus hanya memengaruhi ‘keinginan’ Konsumen secara intensif. Karena itu, Pemasar kerap menciptakan permintaan artifisial, yaitu dengan membuat produk-produk yang menarik, sesuai dengan selera, terjangkau harganya, dan mudah diperoleh di mana saja. Sehingga, aktivitas produksi kemudian hanya untuk memuaskan keinginan manusia saja. Celakanya, memuaskan keinginan manusia hampir tidak pernah selesai waktunya.

Maka, berangkat dari kegelisahan terhadap ajaran tersebut, beberapa Sarjana menawarkan berbagai gagasan dan konsep baru. Bahwa, sudah waktunya bagi Ilmu Pemasaran menyerap ajaran-ajaran kebijaksanaan, moral, dan etika. Sehingga, lalu hadir gagasan-gagasan antara lain seperti, Humanistic Marketing, Ethical Marketing, Socially Responsible Marketing, Welfare Marketing, dan Faith-based Marketing, sebagai pilihan alternatif untuk teori pemasaran yang konvensional.

Para Sarjana Muslim yang mendalami Ilmu Pemasaran juga memiliki antusiasme yang serupa. Mereka memanfaatkan momentum dengan menoleh pada ajaran-ajaran Islam. Mereka juga ingin membangun sebuah teori dan strategi pemasaran baru berdasarkan nilai-nilai dan etika Islam, dengan menyerap aturan, filsafat, dan moral yang bersumber pada Qur’an dan Hadist/Sunnah. Maka pada tahun 2010, melalui Journal of Islamic Marketing, Baker Ahmad Alserhan mengenalkan ‘Islamic Marketing’ sebagai cabang baru dari Ilmu Pemasaran kepada dunia.

Islamic Marketing adalah tentang bagaimana menghadirkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sebuah perilaku terbaik dari Pemasar atau Konsumen ketika berpartisipasi di pasar. Dalam Islamic Marketing, nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam bukan sebagai tool, melainkan sebagai resource. Islam menjadi referensi utama dalam memengaruhi aktivitas pemasaran.

Jika kemudian membandingkannya dengan pemasaran konvensional, keterlibatan Allah menjadi suatu pembeda yang krusial. Bagi Islamic Marketing, Allah menjadi titik temu dari niat Pemasar dan Konsumen. Selain itu, kehadiran Allah juga menjadi fundamental bagi Pemasar dan Konsumen ketika mengambil sebuah keputusan. Karenanya, relasi kepercayaan dan komitmen antara Pemasar dan Konsumen kemudian menjadi lebih mudah dibangun atau dirawat.

Islamic Marketing mengusung gagasan bahwa praktik pemasaran merupakan ibadah. Maka, implementasi ketakwaan kepada Allah menjadi kontrol bagi aktivitas-aktivitas Pemasar dan Konsumen dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka. 

Dalam ajaran tasawuf, keinginan dan kebutuhan diidentifikasi sebagai syahwat. Oleh karenanya, Pemasar dan Konsumen tidak boleh melakukannya secara berlebih-lebihan.

Bukan seperti pemasaran konvensional yang menempatkan ‘keinginan’ menjadi pondasi. Pemasar yang ingin selalu memperoleh keuntungan dan Konsumen yang ingin terus merasakan kepuasan. Mereka tidak pernah merasa cukup, bahkan ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Pemasar terus-menerus memberikan kepuasan sebanyak mungkin kepada Konsumen, sehingga Pemasar memperoleh keuntungan yang maksimal (profit-maximization) dari Konsumen.

Dalam Islamic Marketing, Pemasar perlu memastikan niatnya lebih dulu. Bahwa, pemasaran bukan untuk memperoleh ketenaran atau menghasilkan keuntungan sebagai tujuan akhir. Melainkan, pemasaran digunakan untuk menyebarkan apa yang baik dan bermanfaat. Yaitu, dengan menawarkan solusi nyata dan berharga kepada Konsumen. Sehingga, Pemasar kemudian memperoleh nilai yang maksimal (value-maximization) dari Konsumen.

Sementara pada sisi yang lain, Konsumen juga perlu memperhatikan perilakunya. Dengan tidak membelanjakan uang melebihi kebutuhan (Qur’an 25:67). Namun bukan pula, Konsumen lalu menjadi ‘pelit’, dengan mengurangi apa yang memang sudah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupannya. Aktivitas konsumsi selalu ditempatkan pada posisi pertengahan. Yaitu, tidak kikir, tidak menahan, tidak berlebihan, dan tidak boros (Qur’an 17:29).

Islamic Marketing dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perubahan praktik pemasaran untuk menjadi lebih baik. Meskipun, realisasi perubahan tersebut tampaknya berat dan membutuhkan waktu yang lama. Namun, inilah jalan sunyi pilihan Islamic Marketing.

Pengendalian Syahwat: Inilah Jalan Sunyi Pilihan Islamic Marketing
Follow me

One thought on “Pengendalian Syahwat: Inilah Jalan Sunyi Pilihan Islamic Marketing

Leave a Reply