Alserhan: “Konsumen sudah muak menjadi dompet yang selalu dikuras oleh Pemasar”

The Principles of Islamic Marketing oleh Baker Ahmad Alserhan
The Principles of Islamic Marketing oleh Baker Ahmad Alserhan

Baker Ahmad Alserhan adalah penulis buku berjudul The Principles of Islamic Marketing. Ia adalah presiden dari International Islamic Marketing Association (IIMA) dan ketua untuk Global Islamic Marketing Conference (GIMAC).

Pada tahun 2010, melalui Journal of Islamic Marketing, Baker Ahmad Alserhan mengenalkan terminologi ‘Islamic Marketing’ kepada para Sarjana pemasaran. Journal of Islamic Marketing lalu menjadi media untuk mendorong penelitian lebih lanjut tentang geografi Muslim sebagai konteks yang dapat memperkaya literatur studi pemasaran yang telah ada. Jurnal tersebut memberikan berbagai perspektif teoritis tentang bagaimana seharusnya praktik pemasaran dari sudut pandang Islam, karena sebelumnya kurang dapat diartikulasikan secara tepat oleh para Cendekiawan pemasaran konvensional.

Berikut ini adalah petikan wawancara yang dilakukan oleh Margaret Adolphus berlangsung pada 10 tahun yang lalu. Dari wawancara ini, kita akan dapat memahami bagaimana latar belakang lahirnya Islamic Marketing.

Media memberikan banyak perhatian pada prinsip Islam yang melarang terhadap sistem bunga dalam transaksi keuangan seperti kredit pinjaman. Begitu pula dengan prinsip-prinsip Islam lainnya yang dapat memengaruhi aktivitas bisnis seperti, keadilan sosial dan inklusi, kejujuran, perlindungan kepada yang lemah, dan menegakkan rasa keadilan. Bagaimana prinsip Islam memengaruhi etika pemasaran dan apa yang membedakannya dengan pemasaran “Islami”?

Islamisasi fungsi pemasaran melalui penerapan prinsip-prinsip Islamic Marketing, yang pada dasarnya etis, akan memungkinkan bisnis dapat lebih berdamai dengan dunia (sektor selain bisnis) maupun dengan diri mereka sendiri (lingkungan internal bisnis). Hal tersebut juga akan membangun hubungan yang dihormati oleh para Konsumen dengan semangat yang hampir religius. Islamic Marketing membahas pemikiran dan praktik pemasaran saat ini dalam kerangka ajaran Islam secara keseluruhan. Islamic Marketing mempelajari bagaimana perilaku konsumen Muslim dibentuk oleh berbagai konsep ajaran agama dan budaya yang memengaruhi terhadap hampir semua keputusan ekonomi mereka. Untuk dapat sukses menjalankan bisnis di pasar Muslim, praktik pemasaran yang konvensional harus dirancang ulang agar sesuai dengan standar mereka. Dengan kata lain, teori dan praktik pemasaran (konvensional) saat ini perlu mengenakan sorban, kerudung, atau setidaknya jilbab agar dapat menarik pasar tersebut. Untuk lebih spesifik, Islamic Marketing memadukan dunia keagamaan, etika, dan bisnis untuk: (1) menciptakan pasar yang lebih manusiawi dimana pembeli mendapat kesepakatan yang adil dan penjual menerima laba yang wajar, dalam lingkungan yang lebih baik; (2) membantu pemasar Muslim dan non-Muslim memahami kebutuhan konsumen Muslim yang besar; (3) memberikan informasi terkini kepada pemasar tentang perilaku konsumen Muslim dan kebutuhan mereka, serta analisis tren masa depan mereka.

Adakah produk atau kelompok produk (selain yang jelas, yaitu alkohol, pornografi, babi) yang terlarang dalam Islamic Marketing?

Islamic Marketing menjangkau area yang jauh lebih luas daripada yang dipahami secara umum, yaitu melarang penggunaan suku bunga dan konsumsi alkohol dan produk babi. Bahwa, ajaran Islam hanya menyetujui produk makanan sehat setelah ditanam, disiapkan, dan diangkut secara keseluruhan dari “tanah pertanian ke meja makan”. Implikasi prinsip-prinsip Islam pada aspek pemasaran dan bisnis sangat menyeluruh dan mencakup seluruh bauran pemasaran (marketing mix) untuk layanan dan barang. Komponen pertama dari bauran pemasaran konvensional, misalnya, adalah produk. Namun dalam Islamic Marketing, hal itu adalah produk halal, dan perbedaan di antara keduanya sangat besar. Dari perspektif Islamic Marketing, produk yang dijual oleh perusahaan harus sepenuhnya halal. Ini berarti bahwa semua input, proses, dan output harus sesuai dengan syariah, yaitu produk dan semua yang terlibat dalam penciptaan, pengiriman, dan konsumsi harus ramah lingkungan dan sama sekali tidak berbahaya, karena Islam jelas melarang tindakan yang menyebabkan kerusakan pada apa pun yang diciptakan oleh Tuhan (keharmonisan di alam semesta). Produk yang tidak halal, atau haram akan sangat sulit dijual kepada konsumen Muslim, karena perilaku tersebut sebagian besar ditentukan oleh pemahaman bersama tentang apa yang diizinkan dan apa yang dilarang berdasarkan hukum syariah. Maka, menjadi patuh pada ketentuan syariah adalah cara tercepat untuk mempromosikan perusahaan dan produk-produknya.

Bagaimana dan mengapa Anda menemukan Islamic Marketing sebagai disiplin ilmu baru, dan apa alasan Anda untuk meluncurkan jurnal?

Disiplin Islamic Marketing ini adalah hasil alami dari perkembangan ekonomi global, di mana perspektif Islam tentang bisnis semakin mendapatkan momentum. Namun, meskipun semakin penting dan meningkat pengaruhnya, para peneliti akademis mengabaikan dan sangat sedikit yang mengetahui tentang konsumen Muslim. Dengan demikian Islamic Marketing sebagai suatu disiplin ilmu dikembangkan untuk membantu dalam membuat konsep dan mengklarifikasi ajaran dan pedoman Islam yang relevan, sehingga baik konsumen Muslim dan pemasoknya – Muslim atau non-Muslim – dapat mendefinisikan harapan mereka satu sama lain dan belajar bagaimana membangun hubungan yang berkelanjutan yang dibangun di atas saling pengertian, bukan pada stereotip yang tersebar luas.

Apa tujuan dan misi dari Journal of Islamic Marketing?

Misi jangka pendek jurnal ini adalah memungkinkan konsumen Muslim dan pemasok mereka agar dapat terhubung lebih dekat. Dalam jangka panjang, jurnal ini bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan bisnis yang lebih manusiawi; di mana manusia bisa makmur tanpa membawa kehancuran di sekelilingnya. Hal itu diupayakan dengan mengadvokasi prinsip-prinsip dan etika Islam ketika mereka berhubungan dengan bisnis pada umumnya dan pemasaran pada khususnya. Itu akan menjadi media bagi para peneliti untuk membahas peluang pemasaran, tantangan dan tradisi di pasar Muslim, dan akan memberikan wawasan tentang berbagai aspek pemasaran ke pasar Muslim seperti waralaba, saluran distribusi, praktik ritel, branding, hospitality, pola konsumsi , dan lain-lain.

Lebih khusus lagi, apa tujuan Anda untuk beberapa tahun ke depan, dalam hal jumlah artikel dalam setiap isu, jumlah isu per tahun, isu yang khusus dan sebagainya? Misalnya, apakah Anda tertarik untuk membahas isu tentang pemasaran produk keuangan?

Selama tahun pertama tiga isu akan diterbitkan, masing-masing berisi sembilan pengajuan yang sudah disetujui dengan mencakup artikel dan studi kasus, satu wawancara, dan satu ulasan buku. Setelah itu, kami bermaksud menerbitkan jurnal tiap empat kali setahun dan mungkin menambah jumlah artikel dari sembilan menjadi sepuluh atau sebelas. Isu yang khusus menjadi prioritas dalam rencana kami. Kami sedang merencanakan isu-isu khusus tentang Islamic branding, Islamic hospitality, dan pemasaran dalam jasa keuangan Islam. Juga, masalah lain tentang place marketing yang sedang direncanakan – hal itu sebenarnya terinspirasi dari Philip Kotler yang mana kami pernah berkomunikasi kepadanya tentang upaya Dubai dalam hal tersebut. Topik lain yang juga dipertimbangkan termasuk relationship marketing dalam Islam. Apabila ada Penulis yang bersedia menjadi editor tamu pada topik-topik khusus tersebut, kami akan sangat senang menerimanya.

Bagaimana Anda memastikan bahwa Anda menjangkau peneliti dan praktisi?

Jurnal ini sedang diperjuangkan oleh tim yang sangat profesional dan berdedikasi dari Emerald. Orang-orang terhormat yang membantu, dan terus membantu dalam hal ini termasuk: Joe Bennett, Juliet Norton, Victoria Buttigieg, Chris Hart, Valerie Robillard, dan Emily Hemus, serta ada beberapa yang lainnya. Kami telah membangun basis data yang mencakup ribuan peneliti di seluruh dunia dan kami telah menerima umpan balik yang mengesankan dari mereka mengenai jurnal tersebut. Promosi yang ekstensif dalam suatu event seperti konferensi sedang dilakukan, serta kami memperkuat hubungan dengan pembaca yang potensial dan kontributor. Relasi pribadi dan jejaring sosial online juga berperan dalam menciptakan lebih banyak paparan dan kesadaran di antara jurnal publik.

Pada tingkat seperti apa, dan dimana, Islamic Marketing dapat diajarkan, dan bagaimana jurnal dapat membantu hal tersebut?

Menariknya,Islamic Marketing sedang dieksplorasi oleh sekolah-sekolah bisnis terbaik di seluruh dunia. Sebagai contoh, Universitas Oxford di Inggris yang telah memulai proyek besar tentang Islamic branding and marketing yang diumumkan kurang dari setahun lalu. The École Supérieure des Sciences Économiques et Commerciales (ESSEC) di Perancis menawarkan program studi jenjang MBA tentang Islam dan pemasaran. Inisiatif serupa juga sedang berlangsung di Malaysia, Brunei, dan bagian dari Timur Tengah. Jurnal ini akan memainkan peran utama dalam mendorong para peneliti untuk memfokuskan upaya penelitian mereka menjadi lebih dekat pada Islamic Marketing, sehingga menciptakan sumber akademik pertama di dunia, yang akan menjadi referensi nomor satu pada masalah ini.

Apa isu penelitian utama yang akan Anda ambil, dan apakah Anda akan menyukai pendekatan penelitian tertentu, misalnya kuantitatif sebagai lawan kualitatif?

Ruang lingkup jurnal cukup luas. Isu-isu yang sangat penting bagi kami termasuk konsumen Muslim, pasar Islami, komersialisasi Islam, Islamic Marketing secara ideal, Islamic marketing mix, etika bisnis Islam, pemasaran untuk produk-produk keuangan Islam, pasar halal, Islamic hospitality, Islamic branding, Islamic e-market, industri mode dan pakaian Islami, obat-obatan, kosmetik dan perlengkapan mandi Islami, hukum Islam dan praktik pemasaran, penjualan ke pasar Islami, dan pembelian dari pasar Islami. Kontribusi yang terkait dengan salah satu dari subyek tersebut disambut dengan baik, terlepas dari bagaimana pendekatan penelitiannya. Kami memahami bahwa hal ini adalah subjek baru dan oleh karena itu kami berharap banyak dari artikel-artikel tersebut bersifat eksploratif dan deskriptif. Namun, jenis pendekatan tersebut kurang relevan ketika menyangkut keputusan penerbitan; yang penting adalah kualitas artikel dan kontribusinya dapat menciptakan pemahaman yang diinginkan dari berbagai aspek pasar Islami.

Selain (jelas) relevan dengan topik, apa indikator kualitas dari artikel yang Anda cari?

Pengajuan artikel untuk jurnal harus ditulis dengan baik, tepat, to the point, fokus, mengalir lancar, menarik, dan tidak kaku. Ini bukan jurnal politik atau jurnal keagamaan; ini adalah jurnal bisnis dengan misi akademis sehingga kami berharap artikel akan seimbang dalam hal itu.

Dan akhirnya… Bisakah Anda menyimpulkan dampak, aktual dan potensial, dari nilai-nilai Islam terhadap etika bisnis?

Kami mengakui bahwa efeknya tidak akan langsung terasa. Seperti semua inisiatif etis lainnya yang ditujukan untuk masyarakat secara keseluruhan, realisasinya membutuhkan waktu; dimulai dengan menciptakan kesadaran dan secara bertahap membangun momentum. Hal itu seperti menciptakan gelombang pada sebuah danau dengan melempar kerikil, itu dimulai dengan percikan kecil lalu tumbuh menjadi gelombang secara berurutan yang mengelilingi seluruh bentangan air. Konsumen sudah muak dengan cara mereka diperlakukan. Mereka ingin dilihat sebagai manusia, bukan sebagai dompet untuk dikuras oleh pemasar. Mereka menginginkan produk yang akan membuat planet ini layak huni bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka. Mereka menginginkan pemasar yang lebih peduli pada kesehatan dan kesejahteraan konsumen mereka. Mereka ingin perusahaan yang melihat kepentingan masyarakat sebagai menara yang memandu operasi mereka, bukan sebagai sasaran untuk menembak. Prinsip-prinsip etis dari Islamic Marketing dapat sangat membantu dalam hal ini. Bisnis yang mengislamkan seluruh fungsi pemasaran mereka akan memiliki keunggulan kompetitif yang luar biasa dibandingkan yang lain, yang menunda transisi semacam itu.

 

Alserhan: “Konsumen sudah muak menjadi dompet yang selalu dikuras oleh Pemasar”
Follow me

Leave a Reply