Klasifikasi Produk dalam Perspektif Islam

Hirarki produk dalam perspektif Islam
Hirarki produk dalam perspektif Islam

 

Metode klasifikasi produk dengan perspektif Islam mengadopsi gagasan seperti yang sudah dipedomani dalam Maqasid Syari’ah. Yaitu, bahwa produk diklasifikasikan menurut urgensi pemakaiannya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan.

Secara makro, tujuan dari klasifikasi tersebut adalah untuk melindungi dan memelihara kehidupan umat manusia. Sedangkan secara mikro, yaitu untuk melindungi Konsumen dari perilaku konsumsi yang berlebih-lebihan, serta mencegah Pemasar atau Produsen dari praktik mengeksploitasi Konsumen.

Menurut para Cendikiawan Muslim, produk-produk dalam perspektif Islam dapat diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan (lihat Gambar) (Alserhan, 2016). Keempat tingkatan produk tersebut lalu disusun menurut skala prioritas dengan merujuk pada barang dan/atau jasa yang dapat membuat perbedaan nyata bagi kesejahteraan hidup manusia, seperti memenuhi kebutuhan tertentu, mengurangi kesulitan, atau memberikan kenyamanan dan kedamaian mental serta kebahagiaan. 

Keempat tingkatan tersebut adalah (Chapra et al, 2008; Alserhan, 2016), (i) Daruriyyat; (ii) Hajiyyat ; (iii) Kamaliyyat; dan (iv) Tarafiyyat. Daruriyyat menjadi tingkatan produk yang paling besar nilai manfaatnya, sedangkan Tarafiyyat menjadi yang terkecil.

Produk-produk dalam Klasifikasi Daruriyyat

Kata ‘Daruriyyat’ merupakan bentuk jamak dari kata ‘darurah’ (ضرورة) yang artinya ‘esensial’, ‘kemestian’ atau ‘keadaan terpaksa’. Dalam konteks pemasaran, produk-produk yang termasuk Daruriyyat adalah barang atau jasa yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk dapat bertahan hidup (survival).

Konsep tentang bertahan hidup dalam perspektif Islam berbeda dari yang biasa dipahami secara konvensional oleh masyarakat pada umumnya. Menurut para Ulama Syari’ah, kebutuhan dasar hidup tidak terbatas pada mengamankan kebutuhan vital manusia secara fisik saja, seperti sandang, pangan, dan papan. Melainkan juga, kebutuhan secara non-fisik yang melingkupi akidah (din), hak milik (mal), akal (‘aql), keturunan (nasl), dan harga diri (‘irdh). 

Oleh karenanya, jenis-jenis barang dan jasa yang dapat mengakomodir kebutuhan seperti itu antara lain, pakaian, makanan, minuman, dan tempat tinggal; transportasi umum; obat-obatan dan layanan kesehatan; pendidikan dasar (agama dan umum) dan buku-buku (agama dan umum); serta keamanan dan ketertiban lingkungan (Alserhan, 2016). Dalam praktik sistem Ekonomi Islam, ketersediaan barang-barang dan layanan-layanan seperti itu menjadi prioritas. Apabila Produsen tidak atau belum mampu memenuhinya, maka Pemerintah akan mengambil alih peran itu untuk memastikan ketersediaannya bagi seluruh warga negara.

Barang dan jasa dalam klasifikasi Daruriyyat memberikan implikasi-implikasi kepada Produsen/Pemasar dan Konsumen (Alserhan, 2016). Untuk Produsen atau Pemasar, bisnis dari produk-produk Daruriyyat akan menghasilkan profit yang sangat kecil, distribusi yang sangat luas, dan kualitas yang sangat beragam. Karena produk-produk tersebut harus terjangkau bagi semua kalangan masyarakat, sehingga Produsen/Pemasar seharusnya menahan diri dari tujuan untuk cepat memperoleh keuntungan yang besar. 

Bagi Konsumen, pilihan mengonsumsi produk-produk Daruriyyat, baik secara kuantitas maupun kualitas, tergantung kepada daya beli mereka masing-masing. Konsumen dengan daya beli yang paling lemah sekalipun seharusnya tetap dapat mengonsumsinya demi memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Produk-produk dalam Klasifikasi Hajiyyat

Kata ‘Hajiyyat’ adalah bentuk jamak dari kata ‘haajah’ (حاجة) yang mempunyai arti ‘keinginan’, ‘kehendak’ atau ‘hasrat’. Dari perspektif pemasaran, produk-produk dalam klasifikasi Hajiyyat kemudian dimaknai sebagai kelompok barang atau jasa yang dapat meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup.

Hajiyyat merupakan tingkatan berikutnya setelah Daruriyyat. Meskipun seseorang dapat bertahan hidup dalam level Daruriyyat, atau tanpa naik ke Hajiyyat, namun kondisi tersebut akan membuat kehidupan sehari-harinya menjadi terasa jauh lebih sulit dan berat. Oleh karenanya, masuk ke tingkatan Hajiyyat menjadi keinginan yang sangat manusiawi agar dapat meringankan dan memudahkan seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Pada dasarnya, produk-produk dalam klasifikasi Hajiyyat sama dengan Daruriyyat, tetapi berbeda dalam hal kualitas, kuantitas, dan ketersediaan (Alserhan, 2016). Barang dan jasa Hajiyyat lebih baik kualitasnya, lebih banyak kuantitasnya, dan lebih mudah ketersediaannya daripada Daruriyyat. Contohnya, makanan yang lebih enak rasanya; pakaian yang lebih bagus; rumah yang lebih luas; peralatan rumah tangga yang lebih bervariasi; transportasi umum yang lebih nyaman; layanan kesehatan yang lebih beragam; pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi; buku-buku dengan tema yang lebih banyak; atau layanan konsultasi dan pendampingan yang lebih beragam pilihannya.

Barang dan jasa dari tingkatan Hajiyyat menimbulkan dampak-dampak bagi Produsen/Pemasar dan Konsumen (Alserhan, 2016). Apabila dibandingkan dengan Daruriyyat, Produsen atau Pemasar pada tingkatan ini akan memperoleh sedikit lebih banyak untuk profit, sedikit lebih kecil dalam hal jangkauan distribusi, dan lebih memperhatikan dari sisi kualitas. Sementara untuk Konsumen, tidak berbeda jauh dari Daruriyyat, kecuali lebih mempertimbangkan kualitas barang atau jasa yang akan dikonsumsinya.

Produk-produk dalam Klasifikasi Kamaliyyat

Kata ‘Kamaliyyat’ menjadi bentuk jamak dari kata ‘kamaalii’ (كمالي) yang mengandung arti ‘mewah’, ‘sempurna’, ‘aksesoris’, atau ‘tidak perlu’. Dengan sudut pandang pemasaran, produk-produk dalam klasifikasi Kamaliyyat lalu dipahami sebagai barang atau jasa yang dapat memberi kontribusi terhadap kesempurnaan hidup.

Kamaliyyat menjadi tingkatan ketiga dari susunan hirarki produk dalam perspektif Islam, setelah Daruriyyat dan Hajiyyat. Dalam tingkatan tersebut, Kamaliyyat bukan dimaksudkan untuk meringankan atau menghilangkan kesulitan hidup. Atau pula untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi lebih untuk menambah keanggunan dalam kehidupan. 

Kepuasan lalu menjadi penentu utama ketika mengonsumsi barang atau jasa seperti, memiliki rumah yang indah di lingkungan kelas atas, mempunyai kendaraan pribadi, menyekolahkan anak di sekolah mahal, dan seterusnya (Alserhan, 2016). Selain itu, nama merek juga memiliki pengaruh yang signifikan saat memilih produk.

Barang dan jasa dari tingkatan Kamaliyyat menghadirkan pertimbangan-pertimbangan bagi Produsen/Pemasar dan Konsumen (Alserhan, 2016). Apabila dibandingkan dengan Hajiyyat, Produsen atau Pemasar pada tingkatan ini akan memperoleh lebih banyak profit, karena berhasil menjangkau konsumen kelas menengah-atas dan membangun diferensiasi merek. Sementara untuk Konsumen, produk Kamaliyyat menunjukkan banyaknya karunia dari Allah dan sebagai tanda kelas sosial.

Dari pandangan Syari’ah, Kamaliyyat merupakan batas bagi Muslim. Karena pada tingkatan ini, Muslim dikhawatirkan akan sangat mudah terjebak dalam kehidupan mewah yang berlebihan dan boros. Padahal, dalam ajaran Islam hal-hal seperti itu adalah terlarang. 

Produk-produk dalam Klasifikasi Tarafiyyat

Dari perspektif Islam, produk-produk dalam klasifikasi Tarafiyyat dipandang sebagai kemewahan yang melampaui batas. Mereka halal secara alami, namun haram dalam penggunaannya, karena sudah melebihi kepantasan (israf) dan bahkan tidak pantas sama sekali (tabzir).

Seperti, tidak perlu membeli banyak kendaran mewah jika satu atau dua saja sudah cukup untuk keperluan sehari-hari. Tidak penting memiliki beberapa televisi, jika akan mengurangi intensitas komunikasi antara anggota keluarga karena mereka akan lebih sering sendirian menonton program yang disukai tanpa terganggu dengan yang lain. Memiliki beberapa pasang sepatu sudah sangat baik lalu mengapa harus mengumpulkannya sampai lemari penuh? Atau untuk apa membeli seluruh macam sayuran dari pasar kalau akhirnya sebagian besar dari mereka akan terbuang percuma?

Barang dan jasa dari tingkatan Tarafiyyat menciptakan konsekuensi-konsekuensi bagi Produsen/Pemasar dan Konsumen (Alserhan, 2016). Apabila dibandingkan dengan Kamaliyyat, Produsen atau Pemasar pada tingkatan ini akan memperoleh jauh lebih banyak profit, walaupun hanya menjangkau pasar yang lebih kecil dan frekuensi distribusi yang lebih rendah. Sementara untuk Konsumen, produk Tarafiyyat menjadi resiko yang sangat besar dan serius, karena mengkonsumsinya akan bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Referensi

Alserhan, B. A. (2016). The Principles of Islamic Marketing (2nd ed.): Farnham : Taylor and Francis, 2016.

Chapra, M. U., Khan, S., & Al Shaikh-Ali, A. (2008). The Islamic vision of development in the light of maqasid al-Shariah (Vol. 15). Jeddah: International Institute of Islamic Thought.

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Klasifikasi Produk dalam Perspektif Islam," in ISLAMIC MARKETING, May 28, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/05/28/klasifikasi-produk-dalam-islam-2/.
Klasifikasi Produk dalam Perspektif Islam
Follow me

Leave a Reply