Pengertian Produk dalam Perspektif Islam

Kata ‘produk’ memiliki bermacam makna karena berangkat dari perspektif yang berbeda-beda. Seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengadopsi pemahaman ‘produk’ dari sudut pandang ilmu Ekonomi sehingga mengartikannya sebagai, 

‘barang atau jasa yang dibuat dan ditambah gunanya atau nilainya dalam proses produksi dan menjadi hasil akhir dari proses produksi itu’.

Sementara itu, Business Dictionary melihat ‘produk’ dari kacamata bisnis sehingga mendefinisikannya sebagai, 

‘barang atau jasa yang paling memenuhi kebutuhan pasar atau segmen tertentu, dan dapat menghasilkan laba yang cukup untuk meneruskan keberlangsungan hidupnya’. 

Atau, Marketing Dictionary yang memandang ‘produk’ dari ranah ilmu Pemasaran sehingga menjelaskannya sebagai, 

‘kumpulan atribut (fitur, fungsi, manfaat, dan penggunaan) yang mampu dipertukarkan atau digunakan; biasanya campuran bentuk nyata (tangible) dan tidak berwujud (intangible)’. 

Ketiga pengertian tersebut kemudian acap kali digunakan untuk menjelaskan ‘produk’ kepada khalayak umum.

Lalu, apa perspektif Islam tentang produk? Dan, apa padanan kata ‘produk’ dalam Bahasa Arab?

Islam memandang bahwa makna kata ‘produk’ dapat menjadi lebih dalam daripada sebatas bagaimana jenis (barang, jasa, atau ide), wujud (tangible atau intangible) dan atribut-atributnya (fitur, fungsi, manfaat, dan penggunaan) saja seperti ketiga definisi tersebut di atas, melainkan juga memperhatikan bagaimana sisi-sisi nilai, etika, dan asosiasi psikologisnya (Alserhan, 2016). Karenanya kemudian, padanan kata ‘produk’ dalam Bahasa Arab yang kerap digunakan oleh Qur’an, Hadist, dan literatur-literatur dalam studi Islam menjadi lebih bervariasi dengan menyesuaikan konteks yang ingin dijelaskan. Alserhan (2016) mengemukakan bahwa terdapat enam kata yang biasa menjadi padanan dari kata-kata: ‘produk’ (‘products’), ‘komoditas’ (‘commodities’), dan ‘barang’ (‘goods’), yaitu ‘tayyibaat’ (طيبات ), ‘rizq’ (رزق ), ‘mata’ (متاع ), ‘zain’    (زين ), ‘sil’a’ (سلعة ), dan ‘bidā’a’ (بضاعة).

Kata ‘sil’a’ dan ‘bidā’a’ diartikan dan digunakan untuk menjelaskan kata ‘produk’, ‘komoditas’, atau ‘barang’ sebagaimana arti literalnya, atau tanpa menimbulkan konotasi lainnya. Selanjutnya, kata ‘mata’ dan ‘zain’ digunakan untuk menggambarkan produk yang mempunyai konotasi dari asosiasi psikologis Konsumen. ‘Mata’ artinya ‘kesenangan’ (‘fun’) atau ‘kenikmatan’ (‘pleasure’), sedangkan ‘zain’ artinya ‘indah’ (‘beautiful’) atau ‘memikat’ (‘charming’) (Wehr, 1979). Dalam hal tersebut, Islam memperingatkan agar berhati-hati ketika mengkonsumsi produk berkonotasi mata dan zain sehingga Konsumen tidak terjerat dalam perilaku konsumsi yang boros.

Sementara itu, ‘tayyibaat’ dan ‘rizq’ memiliki makna tambahan dari perspektif nilai dan etika. ‘Tayyibaat’ menerangkan produk, komoditas, atau barang yang ‘murni/asli atau bukan tiruan/campuran’, ‘baik atau tidak membahayakan’ dan ‘jelas atau tidak diragukan’. Sedangkan, ‘rizq’ untuk menjelaskan sumber, bahan baku, atau komoditas yang dipakai oleh tayyibaat. Kata ‘rizq’ merujuk pada kemurahan Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah menyediakan bermacam sumber daya alam sehingga memberi kebaikan dan manfaat bagi umat manusia. Karena itu, produk yang tayyibaat dan rizq dapat digunakan tanpa restriksi, tentu saja dengan asumsi bahwa produk sudah halal terlebih dulu (Alserhan, 2016).

Produk pada Pemasaran Konvensional

Produk merupakan elemen kunci bagi praktik pemasaran. Tanpanya, tidak akan tercipta aktivitas-aktivitas seperti, penawaran-permintaan dan jual-beli. Produk dapat berupa apa saja sepanjang Pemasar mampu menawarkannya untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan Konsumen (Kotler & Keller, 2016). Seperti, barang, jasa, pengalaman, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, atau ide yang telah digunakan selama ini oleh Pemasar sebagai produk.

Secara umum, pemasaran konvensional mengklasifikasikan produk berdasarkan daya tahan (durability), tangibilitas (tangibility), dan penggunaan (use) (Kotler & Keller, 2016). Produk terbagi menjadi tiga kelompok yang sesuai dengan daya tahan dan tangibilitas yaitu: (i) barang yang tahan lama (durable goods); (ii) barang yang tidak tahan lama (nondurable goods); dan (iii) jasa (services). Barang yang tahan lama adalah produk yang mempunyai wujud (tangible) yang dapat dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, seperti mobil, pakaian, buku, dan lain-lain. Kemudian, barang yang tidak tahan lama adalah produk yang memiliki wujud (tangible) yang tidak dapat dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, seperti makanan, sabun mandi, pasta gigi, dan lain-lain. Sementara, jasa adalah produk yang tidak berwujud (intangible), seperti salon kecantikan, konsultan hukum, reparasi alat elektronik, dan lain-lain. Sedangkan, produk terbagi menjadi dua macam yang sesuai dengan penggunaan yaitu, (i) produk yang dikonsumsi oleh individu (consumer goods); dan (ii) produk yang digunakan oleh industri (industrial goods). Produk yang dikonsumsi oleh individu adalah produk-produk untuk keperluan hidup individu, seperti minuman ringan, sabun, koran, barang-barang rumah tangga, dan lain-lain. Sementara, produk yang digunakan oleh industri adalah produk-produk untuk kebutuhan proses produksi, seperti bahan baku dan suku cadang, mesin-mesin, layanan bisnis, dan lain-lain.

Berdasarkan hirarki nilai konsumen (customer-value hierarchy), produk lalu disusun ke dalam lima tingkatan (lihat Gambar), yaitu: (i) produk inti (core product); (ii) produk dasar (basic product); (iii) produk ekspektasi (expected product); (iv) produk tambahan (augmented product); dan (v) produk potensial (potential product) (Kotler & Keller, 2016). Produk atau manfaat inti merupakan tingkatan yang paling dasar, yaitu layanan atau manfaat inti yang diperoleh Konsumen, seperti Tamu Hotel yang menyewa kamar, sejatinya, hanya untuk dapat istirahat dan tidur.

Selanjutnya, produk dasar pada tingkatan kedua, yaitu produk untuk memenuhi keinginan minimal atau standar dari Konsumen, seperti hotel yang menyediakan kamar untuk tamu-tamunya dengan fasilitas standar, seperti tempat tidur, selimut, bantal, lemari, dan toilet. Berikutnya, produk ekspektasi pada tingkatan ketiga, yaitu produk untuk memuaskan ekspektasi dari Konsumen, seperti hotel yang menyediakan kamar untuk tamu-tamunya dengan tempat tidur yang bersih, selimut yang lembut, bantal yang empuk, handuk yang wangi, dan mendapat sarapan pagi.

Kemudian, produk tambahan pada tingkatan keempat, yaitu produk untuk melebihi ekspektasi dari Konsumen, seperti hotel yang menyediakan kamar untuk tamu-tamunya dengan menambah fasilitas lainnya, seperti televisi kabel/satelit, koneksi internet, layanan cuci pakaian, dan kulkas untuk menyimpan makanan dan minuman. Terakhir, produk potensial pada tingkatan kelima, produk untuk mengantisipasi keinginan Konsumen di masa depan, seperti hotel yang menyediakan pilihan kamar dengan harga budget.

 

Lima tingkatan produk
Lima Tingkatan Produk

 

Produk pada Islamic Marketing

Berbeda dari Pemasaran Konvensional, tidak semua produk dapat digunakan oleh Pemasar dalam praktik Islamic Marketing. Karena, hanya produk-produk yang memenuhi ketentuan-ketentuan Syari’ah saja yang boleh dipasarkan kepada Konsumen. Yaitu, produk-produk yang memberikan manfaat untuk Konsumen, baik dari sudut pandang spiritual, etika, maupun material (Alserhan, 2016).

Contohnya, minuman beralkohol yang dapat menjadi produk dalam Pemasaran Konvensional, namun tidak untuk Islamic Marketing. Hal tersebut karena, minuman beralkohol tidak memenuhi kriteria spiritual, etika, dan material. Secara spiritual, Muslim tidak boleh mengonsumsi segala yang memabukkan, termasuk minuman beralkohol, karena dilarang dalam Syari’ah. Dari sisi etika, minuman beralkohol kerap kali menjadi penyebab dari masalah-masalah yang merugikan atau mencelakakan diri sendiri, orang lain, maupun khalayak, ketika seseorang yang meminumnya lalu menjadi kehilangan kontrol diri karena mabuk. Sementara dari tinjauan material, minuman beralkohol mengandung zat yang membahayakan bagi kesehatan tubuh manusia.

Karena itu, Islamic Marketing kemudian menggunakan konsep produk Halalan Tayyibaan (Halal dan Tayyibaat) yang dapat memenuhi kriteria spiritual, etika, dan material. Yaitu, sebuah konsep produk dan berlaku juga untuk perilaku konsumsi yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala melalui Qur’an. Terdapat empat ayat dalam Qur’an yang menerangkan perihal konsep tersebut (Hanapi & Khairuldin, 2017) (lihat Tabel 1).

 

Tabel 1 Empat Ayat Qur'an tentang Halalan Tayyibaan

1.Al-Baqarah (2)
ayat 168-169
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (halalan tayyibaan) dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
2.Al-Ma'idah (5)
ayat 87-88
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haram-kan apa-apa yang baik yang telah Allah halal-kan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (halalan tayyibaan) dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
3.Al-Anfal (8)
ayat 67-69
Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan
sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik (halalan tayyibaan), dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
4.An-Nahl (16)
ayat 114-115
Maka makanlah yang halal lagi baik (halalan tayyibaan) dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Studi yang telah dilakukan oleh Hanapi dan Khairuldin (2017) terhadap keempat ayat tersebut menunjukkan bahwa konsep Halalan Tayyibaan memiliki dua aspek yaitu, spiritual dan fisik (lihat Tabel 2). Halalan mengandung aspek spiritual, sedangkan Tayyibaan mencakup aspek fisik yang melekat dengan kriteria etika dan material. Aspek spiritual berlandaskan pada Al-Baqarah: 168-169 dan Al-Ma’idah: 87-88 yang berkaitan dengan religiositas, sementara aspek fisik bersandar pada Al-Anfal: 67-69 yang menunjukkan peranan etika; dan An-Nahl: 114-115 yang meliputi informasi teknis dan material.

Tabel 2 Dua Aspek dalam Konsep Halalan Tayyibaan

Aspek SpiritualAyat ke-1Al-Baqarah (2)
168-169
Inti sari:
• Menjauhkan diri dari segala perilaku yang berdosa; dan
• Menjauhkan diri dari segala perilaku yang tercela.
Ayat ke-2Al-Ma'idah (5)
87-88
Inti sari:
• Menjauhkan diri dari perilaku yang ekstrem; dan
• Jangan mengubah apa yang halal menjadi haram dan juga sebaliknya.
Aspek FisikAyat ke-3Al-Anfal (8)
67-69
Inti sari:
• Jangan mengambil kesempatan atau keuntungan secara tidak beretika; dan
• Menjauhkan diri dari segala perilaku curang atau tipu.
Ayat ke-4An-Nahl (16)
114-115
Inti sari:
• Manfaatkan material dari alam;
• Material yang diharamkan;
• Proses yang diharamkan; dan
• Kondisi darurat yang dibolehkan dengan syarat tertentu.

 

Pada sisi lain, Islamic Marketing juga menandai produk-produk yang termasuk Haram dan Khaba’ith (خبائث ).Mereka merupakan produk-produk yang tidak memberikan manfaat untuk Konsumen, terutama yang Muslim, baik ditinjau dari kriteria spiritual, etika, maupun material, sehingga bertolak belakang dengan Halalan Tayyibaan. Contohnya, minuman beralkohol.

Praktik Islamic Marketing tidak mengakomodir produk-produk yang mengandung unsur Haram dan/atau Khaba’ith. Meskipun, produk-produk tersebut kemudian ditujukan untuk Konsumen non-Muslim. Mereka masih dapat mengonsumsi produk-produk tersebut, asalkan itu bukan dari hasil transaksi dengan Muslim. Karena, ajaran Islam juga melarang Muslim untuk memasarkan produk-produk yang Haram dan/atau Khaba’ith. Lebih jauh, Imam Ibn al-Jawzī menjelaskan tentang hal tersebut (Alserhan, 2016), bahwa :

  • Mereka tidak boleh ditransaksikan dalam praktik pemasaran yang Islami;
  • Mereka tidak berharga, karena tidak bernilai dan tidak bermanfaat;
  • Mereka tidak dapat dianggap sebagai aset, karena umat Islam tidak diperbolehkan untuk memilikinya;
  • Mereka tidak dapat dianggap sebagai harta bagi umat Islam, dan tidak harus menggantinya jika mereka hilang

 

Referensi

Alserhan, B. A. (2016). The Principles of Islamic Marketing (2nd ed.): Farnham : Taylor and Francis, 2016.

Hanapi, M. S., & Khairuldin, W. M. K. F. W. (2017). The Halal-Green in Al-Qur’an: A Conceptual Analysis. International Journal of Academic

Kotler, P., & Keller, K. (2016). Marketing management (15 ed.): Boston : Pearson Education Inc., 2016.

Wehr, H. (1979). A dictionary of modern written Arabic: Otto Harrassowitz Verlag.

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Pengertian Produk dalam Perspektif Islam," in ISLAMIC MARKETING, May 14, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/05/14/produk-dalam-perspektif-islam/.
Pengertian Produk dalam Perspektif Islam
Follow me

2 thoughts on “Pengertian Produk dalam Perspektif Islam

Leave a Reply