Bagaimana Memahami Konsep Halal (Haram)?

Empat Tingkatan Halal

 

Hakikatnya, konsep tentang halal memang cukup sederhana dan mudah dipahami, bahkan untuk Non-Muslim sekalipun. Namun, aplikasinya ternyata menjadi begitu luas. Saat ini, konsep halal bukan lagi hanya tentang “daging dan uang” saja, sudah lebih dari itu. Gagasan halal terus berkembang dan berpengaruh dalam berbagai aktivitas usaha seperti, perjalanan wisata dan perhotelan, mode dan media, farmasi dan kosmetik, kesehatan, dan pendidikan. Praktik halal sedang berevolusi dari niche menjadi mainstream.

Apa Itu Halal?

Secara linguistik, kata “halal”, berasal dari Bahasa Arab, artinya sah (lawful, legal, legitimate), diizinkan (permissible), atau dibolehkan (allowable) (Wehr, 1979, p.199). Kata tersebut kemudian diserap oleh Bahasa Indonesia dan sudah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dengan makna: “diizinkan (tidak dilarang oleh syari’ah)” dan “(yang diperoleh atau diperbuat dengan) sah”. Sementara, Kontributor Wikipedia (2018, November 5) mendefinisikannya sebagai, segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan dalam agama Islam. Sedangkan, Syekh Yusuf al-Qaradawi (1999) menjelaskannya sebagai, apa yang diizinkan; yang mana tidak ada larangan; dan tindakan yang telah dibolehkan oleh Allah.

Dalam Qur’an, kata “halal” dikontradiksikan dengan kata “haram”. Dikatakan sebagai halal jika itu sepenuhnya bermanfaat, atau manfaatnya mengalahkan kerugiannya (Al-Qaradawi, 1999). Dengan bahasa yang lebih teknis, jika itu 100% bermanfaat atau manfaatnya lebih besar dari 50% ketimbang kerugiannya, maka itu tergolong ke dalam halal.

Namun kemudian, para Cendikiawan Fiqh atau Hukum Islam merentang kedua kutub tersebut (halal dan haram) dan membaginya menjadi lima tingkatan, yang disebut sebagai al-hukm al-khamis (the five provisions atau the five qualifications) (Bhala, 2011, p. 1390). Mereka adalah, (1) wajib/fardhu/rukn (harus, obligatory); (2) mustahab/sunnah/fadiah/mandub (dianjurkan, recommended); (3) mubah (boleh, neutral, permissible, indifferent); (4) makruh (keji, dibenci, reprehensible); dan (5) haram (dilarang, tidak boleh, forbidden). Empat tingkat, yaitu wajib, mustahab, mubah, dan makruh, menjadi bagian dari halal (Alserhan, 2016; Kamali, 2013). Derajat tertinggi adalah wajib, sedangkan makruh menjadi yang paling rendah.

Wajib

Secara harfiah, wajib artinya harus, penting, atau perlu. Secara teknis, wajib adalah tindakan yang harus dilakukan. Kegagalan dalam pelaksanaannya menjadi sebuah dosa. Namun sebaliknya, jika itu dikerjakan ganjarannya adalah sebuah kebaikan atau pahala. Misalnya, dalam konteks peribadatan seperti mengerjakan sholat wajib lima kali sehari, atau melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Sedangkan, untuk konteks bisnis, sesuatu yang wajib dipandang sebagai inti dari identitas halal (the core halal), yang tanpanya sebuah entitas bisnis dapat dianggap tidak memahami syari’ah (Alserhan, 2016). Contoh wajib dalam aktivitas bisnis seperti, kejujuran dan transparansi.

Mustahab

Hakikatnya, kata “mustahab” mengacu pada sesuatu yang diperintahkan dalam Islam tetapi tidak mengikat secara mutlak. Mustahab merupakan perbuatan yang jika dikerjakan berbuah pahala, namun apabila tidak dilaksanakan pun tidak terganjar dosa. Seperti, Allah menganjurkan dokumentasi transaksi bisnis yang tidak secara tunai, agar tidak terjadi perselisihan atau terlupakan, namun jika sudah saling percaya maka boleh untuk tidak dilakukan (Qur’an 2:282).

Seringkali mustahab diasosiasikan sebagai kebalikan dari makruh, artinya menghindari perbuatan yang makruh merupakan mustahab (Al-ʻAllāf, 2003; Kamali, 2010). Contoh penyembelihan hewan ternak secara Islam, yang dianjurkan untuk memakai pisau tajam. Mengapa? Karena untuk meringankan rasa sakit hewan tersebut. Bagaimana jika tidak dengan pisau yang tajam, atau dengan cara lain seperti mematahkan lehernya atau memukul kepalanya? Maka cara seperti itu akan mengakibatkan hewan menderita kesakitan yang dahsyat, dan merupakan perbuatan yang tidak baik terhadap hewan sehingga dikategorikan sebagai makruh (Kamali, 2010).

Namun tidak seluruhnya demikian, jika tidak mengerjakan yang mustahab bukan pula lantas menjadi makruh (Ibn Daqiq Al-‘Id, 2013; Ibn Hajar al-Asqalani, 1993). Karena mustahab berawal dari perintah, sedangkan makruh dari larangan. Misalnya shalat dhuha, yang merupakan mustahab apabila dilakukan, namun tidak lantas makruh jika tidak dikerjakan.

Mustahab juga lalu disebut sebagai sunnah (Kamali, 2013). Yaitu, suatu perbuatan yang beberapa kali dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, namun kemudian dihilangkan pada waktu yang lain, seperti melakukan pengobatan melalui bekam.

Mubah

Mubah merupakan segala tindakan, yang bukan haram, yang boleh dilakukan oleh Muslim berdasarkan keputusan pribadi dan kebebasan individual (Al-ʻAllāf, 2003). Secara ilmu Fiqh, mubah adalah sesuatu yang apabila dikerjakan, tidak berpahala dan tidak pula berdosa. Begitu pun, jika itu ditinggalkan. Namun meskipun begitu, untuk niat melaksanakan perbuatan mubah dapat memperoleh pahala (Al-ʻAllāf, 2003). Misalnya, melakukan sarapan setiap pagi karena ingin memiliki energi yang cukup untuk membantu pekerjaan orang tua.

Seringkali, kata “mubah” bertukar penggunaannya dengan kata “halal”, karena keduanya memiliki terjemahan yang sama, yaitu “dibolehkan” atau “permissible”. Meskipun sesungguhnya, terdapat perbedaan makna di antara keduanya. Dalam Ilmu Fiqh, halal adalah kebalikan dari haram; serta mencakup segala sesuatu yang bukan haram. Berdasarkan itu, halal lalu bermakna lebih umum daripada mubah, yaitu setiap yang mubah termasuk ke dalam halal. Namun, tidak setiap halal lantas menjadi mubah, seperti makruh yang termasuk halal tetapi berbeda konsep dengan mubah.

Makruh

Makruh menjadi tingkatan paling rendah dari kelompok halal. Al-Qaradawi (1999) menjelaskan bahwa makruh merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, walaupun belum sampai dengan terlarang. Perbuatan makruh hanya berbeda begitu tipis dengan yang haram, meskipun jika itu dilakukan maka tidak akan terganjar dosa seperti perbuatan haram. Kecuali, jika itu dikerjakan secara berlebihan dan mengarah pada perbuatan haram. Perbuatan makruh jauh lebih baik untuk dihindari dan ditinggalkan agar memperoleh pahala dan manfaatnya (Al-ʻAllāf, 2003; Kamali, 2010). Contoh paling jelas dari perbuatan makruh dalam Islam adalah perceraian suami-istri (Qur’an 2:227).

Setelah Halal Berikutnya Tayyib

Kata “tayyib” disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali (Alserhan, 2016, p. 75). Dan, lima kali diantaranya, kata “tayyib” didampingkan dengan kata “halal”, yaitu pada al-Baqarah:168, al-Ma’idah:4 dan 88, al-A’raf:157, dan an-Nisa’:160 (Kamali, 2013, p. 8). Dalam kelima ayat tersebut, kata “tayyib” disebutkan setelah kata “halal” yang dapat menunjukkan, bahwa setelah halal, tayyib merupakan tingkatan berikutnya.

Secara linguistik, kata “tayyib” (jamaknya “tayyibat”) memiliki arti; “baik”, “menyenangkan”, “lezat”, “enak”, “ramah”, atau “baik hati” (Wehr, 1979, p. 78). Secara teknis, seorang yang tayyib adalah ia yang telah menanggalkan kebodohan, perbuatan buruk, atau salahnya, kemudian menjadi selalu memperbaiki diri, santun, dan melakukan perbuatan baik (Alserhan, 2016). Sementara itu, dalam konteks produksi dan konsumsi suatu barang atau jasa, sesuatu yang tayyib adalah yang sudah memenuhi standar kualitas dan kuantitas terbaik, dari sisi material, etika, dan spiritual, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi konsumen (Alserhan, 2016; Kamali, 2013). Isu-isu kualitas seperti, berapa lama usia pakai atau kadaluarsanya? apakah bahan bakunya murni atau ada campuran lainnya? bagaimana dengan jaminan higienitas, reliabilitas, dan keamanannya? Sedangkan, berapa kali menggunakannya? atau berapa banyak memakainya? menjadi isu-isu utama dari kuantitas.

Meskipun begitu, tayyib tidak masuk dalam yurisprudensi Islam dan juga bukan menjadi salah satu dari al-hukm al-khamis (Kamali, 2013). Sehingga, bagi konsumen Muslim yang harus dipastikannya sebelum mengkonsumsi suatu barang atau jasa adalah kehalalannya, walaupun itu belum tentu tayyib atau berkualitas baik. Berbeda dengan konsumen bukan Muslim, terutama dari negara-negara maju, yang lebih dulu memperhatikan masalah kualitas.

Apa Itu Haram?

Dari sudut pandang kebahasaan, kata “haram” diartikan sebagai “dilarang”, “terlarang”, atau “melanggar hukum” (Wehr, 1979, p. 171). Sedangkan secara teknis, kata “haram” didefinisikan sebagai, apa yang dilarang secara definitif oleh Allah; baik itu perilaku maupun benda (Al-Qaradawi, 1999; Alserhan, 2016; Kamali, 2010). Dari perspektif hukum Islam, bagi Muslim yang melakukannya atau mengkonsumsinya akan terganjar dosa dan hukuman, baik di dunia maupun akhirat, namun akan memperoleh pahala ketika dapat menghindarinya.

Dalam ajaran Islam, jumlah yang haram jauh lebih sedikit daripada yang halal. Tidak ada yang haram, kecuali apa yang jelas dilarang oleh Allah dengan ayat-ayat Qur’an atau dicontohkan melalui sunnah Rasulullah (Al-Qaradawi, 1999). Secara umum, apa yang haram dalam Islam, antara lain seperti (Alserhan, 2016):

  • Mengkonsumsi hewan yang disembelih atas nama selain Allah, atau yang tercekik, atau yang terpukul, atau yang jatuh, atau yang ditanduk, atau yang diterkam binatang buas, atau yang ditujukan untuk berhala (sesaji) (Qur’an 5:3)
  • Mengkonsumsi bangkai hewan dan produk-produk turunannya (Qur’an 5:3)
  • Mengkonsumsi darah dan produk-produk turunannya (Qur’an 5:3)
  • Mengkonsumsi daging babi dan produk-produk turunannya (Qur’an 5:3)
  • Mengundi nasib, berjudi dan berbagai variasinya (Qur’an 5:90)
  • Mengkonsumsi semua produk yang memabukan dan meracuni tubuh (Qur’an 5:90)
  • Menggunakan perkakas dari emas dan perak (Riyad Al-Salihiin, Buku ke-3, Hadist ke-50)
  • Memakai pakaian dari sutera dan emas untuk pria (Riyad Al-Salihiin, Buku ke-3, Hadist ke-50)
  • Melakukan riba atau membebankan bunga atas pinjaman uang (Qur’an 2:275)

Berikut prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang menerangkan tentang haram (Al-Qaradawi, 1999; Alserhan, 2016):

  • Penentuan apa saja yang haram adalah hak Allah semata
  • Melarang yang halal dan membolehkan yang haram adalah perbuatan dosa
  • Mengharamkan sesuatu karena darinya terkandung kotoran (najis) dan kerusakan bagi manusia
  • Jika sesuatu itu haram, maka yang mengarah dan mengikutinya juga haram
  • Niat atau cara-cara yang baik tidak mengubah yang haram menjadi halal
  • Menghindari segala sesuatu yang kehalalannya diragukan (grey area)
  • Aturan dan hukuman tentang haram berlaku sama untuk semua Muslim

 

Referensi

Al-ʻAllāf, M. (2003). Mirror of Realization: God is a Percept, the Universe is a Concept: M. Al-Allaf.

Al-Qaradawi, Y. (1999). The Lawful and the Prohibited in Islam (Al-Halal Wal Haram Fil Islam): American Trust Publications.

Alserhan, B. A. (2016). The Principles of Islamic Marketing (2nd ed.): Farnham : Taylor and Francis, 2016.

Bhala, R. (2011). Understanding Islamic Law: LexisNexis.

Ibn Daqiq Al-‘Id, T. A.-D. A. A.-F. M. (2013). Ihkam al-ahkam sharh ‘umdat al-ahkam. Cairo, Egypt: Turath For Solutions.

Ibn Hajar al-Asqalani, A. i. A. (1993). Fath al-bari bi-sharh sahih al-bukhari: Dar al-fikr.

Kamali, M. H. (2010). The Halal Industry from a Shari’ah Perspective. Islam and Civilisational Renewal, 1(4), 595-612,750.

Kamali, M. H. (2013). The Parameters of Halal and Haram in Shari’ah and the Halal industry (Vol. 23): IIIT.

Kontributor Wikipedia. (2018, November 5). Halal. Retrieved from https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Halal&oldid=14371038

Wehr, H. (1979). A dictionary of modern written Arabic: Otto Harrassowitz Verlag.

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Bagaimana Memahami Konsep Halal (Haram)?," in ISLAMIC MARKETING, May 7, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/05/07/bagaimana-konsep-halal-haram/.
Bagaimana Memahami Konsep Halal (Haram)?
Follow me

Leave a Reply