Sekilas Mengenai Industri Halal

Pada masa kini, halal bukan lagi semata-mata tentang masalah agama atau keimanan saja bagi masyarakat Muslim. Namun, halal telah tumbuh meluas dan merambah ke aspek-aspek kehidupan lainnya seperti, bisnis dan perdagangan. Bahkan, halal sudah menjelma menjadi simbol global untuk suatu jaminan kualitas dan pilihan gaya hidup (Hanzaee & Ramezani, 2011).

Perkembangan ideologi halal yang progresif tersebut, salah satunya, dipicu oleh pertumbuhan populasi Muslim di dunia yang meningkat secara signifikan. Dari sebuah survei demografi yang dilakukan oleh Pew Research Center (2015) untuk menganalisis laju populasi penganut agama di seluruh dunia dan dampaknya terhadap dinamika sosial masyarakat mengungkapkan data pertumbuhan populasi Muslim dan menyimpulkan hasilnya antara lain sebagai berikut:

  • Selama empat dekade berikutnya (2010-2050), penganut agama Kristen akan tetap menjadi mayoritas di dunia. Namun, populasi Muslim akan tumbuh lebih cepat daripada penganut agama besar lainnya, seperti Yahudi, Budha, atau Hindu (lihat Tabel 1).
  • Jika tren tersebut berlanjut, maka proyeksi di tahun 2050:
    • Jumlah Muslim akan hampir sama dengan jumlah penganut agama Kristen di seluruh dunia.
    • Di Eropa, jumlah Muslim akan mencapai 10% dari populasi.
    • Di India, jumlah penganut agama Hindu akan tetap menjadi mayoritas, namun India juga akan memiliki jumlah Muslim terbanyak di dunia, bahkan melampaui Indonesia.
    • Di Amerika Serikat, populasi Muslim akan lebih banyak daripada penganut agama Yahudi.

 

Tabel 1 Populasi dan Proyeksi Pertumbuhan Penganut Agama di Dunia

 Populasi 2010(%)Proyeksi
Populasi 2050
(%)Pertumbuhan
2010-2050
Kristen
Islam
Atheis
Hindu
Budha
Leluhur
Lainnya
Yahudi
2,168,330,000
1,599,700,000
1,131,150,000
1,032,210,000
487,760,000
404,690,000
58,150,000
13,860,000
31.4
23.2
16.4
15.0
7.1
5.9
0.8
0.2
2,918,070,000
2,761,480,000
1,230,340,000
1,384,360,000
486,270,000
449,140,000
61,450,000
16,090,000
31.4
29.7
13.2
14.9
5.2
4.8
0.7
0.2
749,740,000
1,161,780,000
99,190,000
352,140,000
-1,490,000
44,450,000
3,300,000
2,230,000
Total (global)6,895,850,000100.09,307,190,000100.02,411,340,000

 

Komunitas Muslim tersebar di berbagai negara. Bahkan, mereka menjadi mayoritas pada sejumlah negara. Sementara itu, beberapa negara tersebut mempunyai nilai paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) yang tinggi. Mayoritas masyarakat di negara tersebut telah memiliki pendapatan yang besar, sehingga dapat disebut sebagai golongan kaya. Oleh karenanya, mereka mempunyai daya beli terhadap barang dan jasa yang kuat.

Menurut CIA World Factbook, yang mencatat nilai PPP per kapita sepanjang tahun 2018 dari seluruh negara di dunia, bahwa dari 100 negara yang mempunyai PPP per kapita tertinggi, tercantum 15 negara yang penduduknya Muslim. Tabel 2 berikut ini memuat kelima belas negara tersebut.

 

Tabel 2 15 Negara Muslim dengan PPP per Kapita Tertinggi

PeringkatNegaraPPP per Kapita (US $)
2
10
13
14
21
25
36
67
73
75
86
87
92
97
100
Qatar
Brunei Darussalam
Kuwait
Uni Emirat Arab
Arab Saudi
Bahrain
Oman
Malaysia
Turki
Kazakhstan
Iran
Lebanon
Turkmenistan
Azerbaijan
Irak
124.900
76.700
69.700
68.200
55.300
51.800
45.500
28.900
26.500
26.100
20.000
19.500
18.700
17.400
17.000

 

Sementara itu, Indonesia yang memiliki Muslim terbanyak di dunia menempati peringkat 123 dengan nilai PPP per kapita yaitu US $12.400. Jika dibandingkan dengan sesama negara Muslim lainnya, Indonesia berada di bawah Yordania (peringkat 121; PPP per kapita US $12.500) dan di atas Tunisia (peringkat 128;PPP per kapita US $12.000).

Namun pada sisi yang lain, negara Muslim dengan peringkat terburuk adalah Niger (peringkat 220; PPP per kapita US $1.200). Lalu, jika negara Muslim dengan peringkat terbaik, yaitu Qatar, dibandingkan dengan yang terburuk, yaitu Niger, maka dari hasilnya dapat disimpulkan, bahwa seorang warga negara Qatar mempunyai daya beli, terhadap barang dan jasa, 104 kali lebih besar daripada seorang warga Niger.

Dari perspektif bisnis dan perdagangan, Muslim merupakan konsumen yang paling cepat berkembang di dunia, baik secara populasi maupun daya beli. Perusahaan mana pun yang tidak, atau kurang, mampu melayani keinginan dan kebutuhan mereka akan kehilangan peluang untuk menguasai porsi pasar yang besar itu (A.T. Kearney, 2008). Namun, konsumen Muslim memiliki preferensi khusus saat mereka mengkonsumsi barang atau jasa. Mereka mengikuti syari’ah sebagai tuntunan berperilaku, termasuk perilaku sebagai konsumen.

Saat ini, jumlah perusahaan yang mengakomodasi preferensi konsumen Muslim sedang berkembang begitu pesat. Hal tersebut, terutama, didorong oleh generasi milenial Muslim yang semakin percaya diri untuk menyuarakan nilai-nilai mereka, khususnya melalui berbagai saluran media sosial (Thomson Reuters, 2017). Sebagai konsumen, mereka tidak ragu “menuntut” perusahaan untuk menyediakan barang dan jasa yang sesuai kebutuhan dengan basis agama mereka.

Secara umum, industri halal dapat dibagi menjadi tiga kategori yang saling terkait yaitu; makanan dan minuman, gaya hidup, dan jasa-layanan (Alserhan, 2010). Produk-produk yang masuk dalam kategori makanan dan minuman antara lain, daging dan variasi olahannya, susu dan variasi produk susu, buah dan sayuran, serta variasi produk dari gandum. Yang tergolong dalam kategori gaya hidup, seperti mode busana, media dan rekreasi, serta farmasi dan kosmetika. Sedangkan, kategori jasa-layanan yaitu, keuangan, travel dan perhotelan, kesehatan, dan Pendidikan.

 

Proporsi Industri Halal
Proporsi Industri Halal

 

Thomson Reuters (2017) melaporkan bahwa konsumen Muslim, secara global (lihat Gambar), telah membelanjakan $1,9 trilyun untuk berbagai produk pada tahun 2015. Dengan rincian yaitu, $1,17 trilyun untuk konsumsi makanan dan minuman; $243 milyar untuk mode busana; $189 milyar untuk media dan rekreasi; $151 milyar untuk travel dan perhotelan; $133 milyar untuk farmasi dan kosmetika; $436 milyar untuk sektor kesehatan; dan $402 milyar untuk sektor pendidikan. Sedangkan, sektor keuangan mencatat aset sebesar $2 trilyun di seluruh dunia.

 

Referensi

Alserhan, B. A. (2010). Islamic branding: A conceptualization of related terms. Journal of Brand Management, 18(1), 34-49. doi:10.1057/bm.2010.18

A.T. Kearney. (2008). Addressing the Muslim Market – Can You Afford Not To? Retrieved from www.atkearney.com:

Hanzaee, K. H., & Ramezani, M. R. (2011). Intention to halal products in the world markets. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(5), 1-7.

Pew Research Center. (2015). The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010-2050. Retrieved from Pew Research Center:

Thomson Reuters. (2017). State of the Global Islamic Economy Report 2016/17. Retrieved from Dubai: Dubai Islamic Economy Development Centre:

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Sekilas Mengenai Industri Halal," in ISLAMIC MARKETING, April 28, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/04/28/sekilas-mengenai-industri-halal/.
Sekilas Mengenai Industri Halal
Follow me

One thought on “Sekilas Mengenai Industri Halal

Leave a Reply