Pendorong dan Penggerak Industri Halal

Contoh bisnis halal
Toko Daging Halal di Lakemba, New South Wales, Australia

 

Laporan dari Thomson Reuters (2017) menjelaskan bahwa, yang memacu pertumbuhan industri halal menjadi seperti sekarang ini berasal dari empat pendorong utama dari pasar global dan empat penggerak utama dari pasar berbasis syari’ah.

Empat Pendorong Utama dalam Industri Halal

#1 Banyak perusahaan multinasional yang terlibat di industri halal

Berbagai merek global terkemuka, mulai dari produk makanan, keuangan, mode busana, travel dan hotel, farmasi dan kosmetik, terus berinvestasi dan berinovasi guna memenuhi kebutuhan preferensi konsumen Muslim. Pemasok makanan terbesar di dunia seperti BRF dari Brasil hingga Nestlé pengolah makanan berskala global, membangun komitmennya untuk menyediakan produk-produk yang halal.

Konsumen Muslim di seluruh dunia telah dapat membeli produk-produk dari Nestlé versi halal untuk merek-merek seperti Milo, Nescafé, Maggi, Kit Kat, dan Sustagen. Sementara itu, KFC, McDonald’s, Pizza Hut, Domino’s Pizza, Dunkin Donuts, dan Subway memiliki ratusan waralaba halal di sebagian besar negara Muslim. Bahkan, KFC menyediakan menu halal untuk komunitas Muslim di negara non-Muslim. Seperti di Australia, KFC menolak untuk menjual bacon atau daging babi asap di tiga lokasi gerainya yaitu, Punchbowl (New South Wales), Bankstown South (New South Wales) dan Fawkner (Victoria). Karena terdapat banyak komunitas Muslim di tiga suburb tersebut, sehingga KFC ingin terus bersertifikat halal.

Dari sektor keuangan, MasterCard dan HSBC adalah contoh lembaga-lembaga keuangan yang bersedia menghilangkan riba atau sistem bunga agar dapat melayani konsumen Muslim mereka. MasterCard telah meluncurkan program pinjaman tanpa bunga bagi pemegang kartu kredit syari’ah di negara seperti Indonesia. Sementara itu, HSBC telah mengembangkan merek Amanah untuk menarik konsumen Muslim di Malaysia.

Untuk sektor travel, banyak operator hotel besar, seperti IHG Group, Marriot, atau Fairmont, yang memastikan kepada para wisatawan Muslim bahwa mereka kini sudah memiliki hotel-hotel yang sesuai dengan syari’ah. Seperti Manila Marriott Hotel yang menjadi jaringan hotel premium pertama yang halal-friendly untuk mengakomodir para wisatawan Muslim.

#2 Negara-negara ekonomi maju mencari pasar yang berkembang

Negara-negara ekonomi maju selalu mencari peluang di pasar yang sedang berkembang, dan ketika ekonomi Islam berkembang pesat, mereka pun datang mengambil peran yang signifikan. Seperti pemerintah Spanyol yang telah mengambil inisiatif untuk mempromosikan Muslim Friendly Tourism (MFT) (Eddahar, 2018). Pemerintah Spanyol kemudian menerapkan strategi-strategi yaitu antara lain, menerbitkan sertifikasi halal, mengadaptasi hotel dan katering halal, menyediakan mushola di beberapa bandara udara seperti Adolfo Suárez Madrid-Barajas, Málaga-Costa del Sol, Barcelona-El Prat, Gran Canaria, dan Tenerife Sur, menyediakan masjid-masjid besar di sekitar destinasi wisata (terdapat lebih dari 250 masjid di spanyol), menyelenggarakan festival Ramadhan di kota-kota seperti Cordoba dan Granada, mempromosikan warisan budaya Islam, memudahkan penerbitan visa untuk wisatawan dari negara-negara Timur Tengah, serta menambah penerbangan langsung dari Qatar dan Dubai menuju Madrid dan Barcelona. Oleh karenanya, para Wisatawan Muslim, khususnya dari Timur Tengah, menganggap Spanyol sebagai prioritas untuk menghabiskan waktu liburan mereka, terutama bagi keluarga kelas menengah-atas dan atas.

Selain itu, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Brasil, dan Australia telah lama menjadi eksportir daging halal utama ke negara-negara Muslim. Pemerintah Australia mengeluarkan Australian Government Authorised Halal Program yaitu, pedoman untuk persiapan, identifikasi, penyimpanan, dan sertifikasi bagi ekspor daging merah halal dan produk daging merah halal. Pada tahun 2015, Australia dapat mengekspor daging halal senilai $1,5 milyar ke berbagai negara Muslim, seperti negara-negara di Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Muslim di Afrika Utara (Cochrane, 2016).

Dari sektor keuangan, Inggris Raya merupakan salah satu negara maju yang berhasil mengembangkan sistem keuangan syari’ah. Inggris telah menyelenggarakan layanan keuangan Islam selama lebih dari 30 tahun (UK Trade and Investment, 2014). Kini, lebih dari 20 bank dapat melayani transaksi keuangan sesuai syari’ah. Sementara itu, kebijakan Pemerintah selama dekade terakhir telah menciptakan kerangka kerja fiskal dan peraturan yang mendorong pertumbuhan keuangan Islam di Inggris Raya.

#3 Tren terhadap bisnis-bisnis berbasis etika

Selama beberapa dekade terakhir, beragam bisnis berbasis sadar-sosial (socially-conscious business), seperti bisnis makanan sehat atau organik, keuangan-etis, human animal treatment, fair-trade, ekowisata, dan lainnya, memperoleh sentimen positif secara global dan terus berkembang. Misalnya bisnis makanan sehat atau organik, sebuah laporan baru dari Zion Market Research memperkirakan bahwa pasar global akan tumbuh dari $124,7 milyar pada 2017 menjadi sekitar $323,1 milyar pada akhir 2024, atau tumbuh sebesar 14,56% (StoreBrands staff, 2018).

Sementara itu, bisnis keuangan-etis atau ethical finance sedang menjadi tren dan tumbuh cepat hingga mencapai triliunan dollar, seperti investasi bersifat tanggung jawab sosial (socially responsible investment), pendanaan-etis (ethical funds), keuangan mikro (microfinance), crowdfunding bersifat sosial, dan kewirausahaan sosial. Sampai dengan 2017, Industri keuangan-etis global sudah mengelola asetnya sampai dengan sekitar $22,89 triliun, atau telah meningkat 25% sejak tahun 2014.

Tren bisnis seperti itu memiliki banyak kemiripan motif dengan model bisnis yang diusung oleh bisnis-bisnis dari industri halal, yaitu berbisnis dengan memperhatikan kesadaran-sosial. Oleh karena itu, bisnis makanan halal, keuangan syari’ah, dan jenis lainnya kemudian turut mendapat tempat dan manfaat dari tren positif konsumerisme-sadar secara global (global conscious consumerism) tersebut.

#4 Kemajuan teknologi dan konektivitas

Perkembangan cepat dari teknologi komunikasi dan transaksi melalui mobile internet, broadband, e-commerce, digital media, augmented reality, dan sejenisnya telah mendemokratisasi tatanan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan bisnis di seluruh dunia. Seperti pelaku bisnis lainnya, para pebisnis di industri halal juga ikut memperoleh manfaat yang besar dari tren tersebut. Usaha mereka menjadi lebih efisien dan efektif ketika ingin mempromosikan produk dan mengembangkan pasar yang terdistribusi secara global dan terfragmentasi secara lebar.

Konsumen Muslim memang menjadi bagian penting dari revolusi digital tersebut. Pelanggan seluler Muslim secara global sudah mencapai 1,3 miliar pengguna yang merupakan 21% dari jumlah pelanggan seluler di seluruh dunia (Thomson Reuters, 2017). Pada tahun 2016 untuk pengguna internet, Indonesia merupakan negara Muslim dengan pertumbuhan rata-rata tercepat di dunia. Pertumbuhannya hampir mencapai 3 kali lipat dari jumlah rata-rata secara global (Kemp, 2017). Ketika menggunakan media sosial, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu rata-rata selama 3 jam 16 menit dalam sehari. Khusus untuk pengguna Facebook, Indonesia menempati urutan ke 4 terbesar di dunia setelah Brazil, India, dan Amerika Serikat.

Untuk penggunaan e-commerce, konsumen Muslim secara global telah membelanjakan lebih dari $107 milyar atau mewakili hampir 6% dari total ekonomi digital dunia pada tahun 2016 (Maierbrugger, 2018). Ekonomi digital Islam diprediksi akan mencapai pendapatan lebih dari $270 milyar pada tahun 2020 atau tumbuh rata-rata 17% per tahun. Indonesia, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, dan Mesir merupakan negara-negara Muslim peringkat atas yang menggunakan e-commerce. Souq.com dari Uni Emirat Arab, Aladdin Street dan Zilzar dari Malaysia, Modanisa dari Turki dan Hijup dari Indonesia adalah contoh-contoh peritel online yang sudah mapan dan berpendapatan besar.

Empat Penggerak Utama dalam Industri Halal

Sementara itu, terdapat empat penggerak utama dari pasar berbasis syari’ah yang mempercepat pertumbuhan industri halal adalah seperti berikut ini.

#1 Perkembangan demografi Muslim secara global

Salah satu pemicu terkuat bagi laju industri halal adalah populasi Muslim yang tumbuh cepat dan masif di seluruh dunia, terutama untuk populasi usia mudanya. Menurut laporan Pew Research Center (2015) bahwa 34% dari populasi Muslim di seluruh dunia berusia di bawah 15 tahun pada tahun 2010 merupakan yang terbesar di antara kelompok agama utama dunia. Sehingga proyeksinya untuk tahun 2050, Muslim akan menikmati bonus demografi, karena 60% dari populasinya secara global akan mencapai usia produktif 15-59 tahun (lihat Tabel).

 

Tabel 3 Distribusi kelompok agama berdasarkan usia

  % Usia
0-14
(2010)
% Usia
15-59
(2010)
% Usia
>60
(2010)
% Usia
0-14
(2050)
% Usia
15-59
(2050)
% Usia
>60
(2050)
Muslim
Hindu
Kristen
Leluhur
Lainnya
Yahudi
Budha
Atheis
34
30
27
22
21
21
20
19
60
62
60
67
65
59
65
68
7
8
14
11
14
20
15
13
24
18
23
17
15
19
14
14
60
62
56
54
56
53
54
54
16
20
21
29
29
28
32
32
Total (global) 27 62 11 20 58 22

 

Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia berperan besar terhadap tren tersebut. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia akan menikmati era bonus demografi pada tahun 2020-2035. Pada masa tersebut, jumlah penduduk usia produktif diproyeksi berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 297 juta jiwa (Kementerian Keuangan RI, 2016).

Terlepas dari berbagai tantangan sosial-ekonomi, seperti penciptaan lapangan kerja, pelatihan, layanan sosial dan sebagainya, tren demografis seperti itu akan menciptakan banyak peluang dan manfaat untuk kepentingan bisnis dan perdagangan. Karena, Muslim secara global akan memiliki proporsi yang signifikan bagi pembentukan pasar konsumen muda dan mesin kewirausahaan.

#2 Pertumbuhan ekonomi Islam secara global

Negara-negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organisation of Islamic Cooperation (OIC) mengalami tren yang meningkat dalam ekonomi mereka. Menurut laporan Statistical, Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries (2018), Produk Domestik Bruto (PDB) dari gabungan 57 negara Muslim tersebut meningkat dari $15,8 trilyun pada 2013 menjadi $19,4 trilyun pada 2017.

Selain itu, rata-rata PPP per kapita dari negara-negara OKI juga terus meningkat. Nilainya mencapai $11.137 pada 2017, dari $9.812 pada tahun 2013. Sedangkan, disparitas rata-rata PPP per kapita dari negara-negara OKI dengan negara-negara berkembang non-OKI telah melebar selama bertahun-tahun. Perbedaannya tercatat sebesar US $ 636 pada tahun 2017.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) (2016) memprediksi bahwa pasar di negara-negara OKI akan terus tumbuh rata-rata 4,19% pada tahun 2015-2021. Proyeksi tersebut lebih besar dari rata-rata pertumbuhan pasar global, yaitu 3,6%, selama periode yang sama. Bahkan, IMF memperkirakan 21 negara anggota OKI akan memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dari negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, dan Cina.

#3 Tren aplikasi syari’ah sebagai gaya hidup dan bisnis

Kini, slogan “Islam is my way of life” bukan lagi hanya sekedar kata-kata saja. Bagi banyak Muslim di berbagai penjuru dunia, slogan tersebut benar-benar diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan, juga termasuk perilaku konsumsi mereka. Meskipun, derajat aplikasinya juga sangat bervariasi di kalangan Muslim karena dipengaruhi oleh usia, letak geografis, pengaruh budaya, dan faktor-faktor lainnya.

Berdasarkan survei Pew Global Attitudes tahun 2015 yang mengumpulkan responden dari 42 negara terpilih, bahwa 83% responden dari negara-negara Muslim menganggap “agama sangat penting dalam kehidupan mereka” (Thomson Reuters, 2017). Sebelumnya, pada sebuah studi yang dilakukan oleh Pew Forum tahun 2012 telah menemukan bahwa 87% Muslim secara global menganggap agama ‘sangat penting’ dan 93% Muslim dari seluruh dunia selalu menunaikan puasa di bulan Ramadhan (Thomson Reuters, 2017).

Dalam konteks perilaku konsumen, misalnya Muslim di Indonesia, menunjukkan bahwa semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology-savvy, justru mereka semakin religius (Yuswohady, 2014). Ketika mereka akan mengkonsumsi produk, manfaat-manfaat spiritual (spiritual values) senantiasa menjadi pertimbangannya. Mereka akan selalu memilih produk-produk yang tidak bertentangan dengan syari’ah.

#4 Berbagai negara Muslim fokus mengembangkan industri halal

Kini, semakin banyak pemerintah dari negara-negara OKI yang telah meluncurkan inisiatif untuk berekspansi ke berbagai segmen industri halal. Sebelumnya, Islamic Development Bank (IDB) yang menjadi motor utama dalam upaya meningkatkan perdagangan antar-sesama anggota OKI dan mengembangkan potensi dari sektor-sektor ekonomi Islam.

Setelah banyak dari anggota OKI yang menyadari bahwa peluang di industri halal begitu penting bagi peningkatan ekonomi negara, maka mereka kemudian mulai mendukung perusahaan-perusahaan yang menjalankannya. Pemerintah menjadi lebih giat memberikan beragam bantuan kepada perusahaan-perusahaan tersebut, seperti inisiatif regulasi, insentif ekonomi, dan program pemasaran.

Pemerintah Indonesia, misalnya, yang kini fokus memacu pertumbuhan keuangan syari’ah, industri makanan halal, dan travel halal. Pemerintah membentuk Komite Nasional Keuangan Syari’ah (KNKS) untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syari’ah di Indonesia. Lalu, pemerintah juga tengah merancang sertifikasi makanan halal agar mampu menarik minat wisatawan Muslim berkunjung ke Indonesia (Pitoko & Jatmiko, 2018). Sementara itu, Kementerian Pariwisata membentuk Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal yang sudah merekomendasikan 113 destinasi wisata di Indonesia untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata halal kelas dunia.

Pemerintah Uni Emirat Arab, contoh lainnya, yang memprioritaskan sektor kesehatan dan farmasi. Pemerintah terus meningkatkan pembelanjaannya guna mewujudkan pelayanan kesehatan berstandar dunia di Uni Emirat Arab. Sejalan dengan itu, pemerintah kemudian menciptakan ekosistem terbaik untuk pengembangan farmasi halal. Pemerintah membentuk International Halal Accreditation Forum (IHAF) untuk memulai upaya standarisasi halal bagi produk farmasi dan kosmetika secara global. Kini, Uni Emirat Arab menempati peringkat teratas dalam daftar negara-negara yang paling maju dalam hal memproduksi obat-obatan halal.

 

Referensi

Cochrane, P. (2016). OVERVIEW-Australia’s $13 billion halal food industry. Retrieved from https://www.salaamgateway.com/en/story/overviewaustralias_13_billion_halal_food_industry-SALAAM14092016063348/

Eddahar, N. (2018). Muslim Friendly Tourism Branding in Global Market. Retrieved from https://www.oic-oci.org/docdown/?docID=1772&refID=1071:

International Monetary Fund. (2016). World Economic Outlook, April 2016. Retrieved from https://www.imf.org/~/media/Websites/IMF/imported-flagship-issues/external/pubs/ft/weo/2016/01/pdf/_textpdf.ashx

Kementerian Keuangan RI. (2016). Bonus Demografi, Peluang Indonesia Percepat Pembangunan Ekonomi. Retrieved from https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/bonus-demografi-peluang-indonesia-percepat-pembangunan-ekonomi/

Kemp, S. (2017). Digital in 2017: Global overview. Retrieved from https://wearesocial.com/special-reports/digital-in-2017-global-overview

Kontributor Wikipedia. (2018, November 5). Halal. Retrieved from https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Halal&oldid=14371038

Maierbrugger, A. (2018). The halal aspect of an e-commerce business. Retrieved from https://www.gulf-times.com/story/586741/The-halal-aspect-of-an-e-commerce-business

Pew Research Center. (2015). The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010-2050. Retrieved from Pew Research Center:

Pitoko, R. A., & Jatmiko, B. P. (2018). Pentingnya Sertifikasi pada Industri Makanan Halal Nasional. Retrieved from https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/24/212626226/pentingnya-sertifikasi-pada-industri-makanan-halal-nasional

Statistical Economic and Social Research and Training Centre for Islamic Countries. (2018). OIC ECONOMIC OUTLOOK 2018 Challenges and Opportunities towards Achieving the OIC-2025. Retrieved from http://www.sesric.org/files/article/628.pdf

StoreBrands staff. (2018). Global organic market to grow nearly 15% through 2024. Retrieved from http://www.canadiangrocer.com/top-stories/global-organic-market-to-grow-nearly-15-through-2024-81841

Thomson Reuters. (2017). State of the Global Islamic Economy Report 2016/17. Retrieved from Dubai: Dubai Islamic Economy Development Centre:

Yuswohady. (2014). Marketing to the Middle Class Muslim: PT Gramedia Pustaka Utama

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Pendorong dan Penggerak Industri Halal," in ISLAMIC MARKETING, April 21, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/04/21/pendorong-penggerak-industri-halal/.
Pendorong dan Penggerak Industri Halal
Follow me

Leave a Reply