Islamic Marketing versus Pemasaran Konvensional

Proses relasi antara Pemasar dan Konsumen dalam Islamic Marketing
Proses relasi antara Pemasar dan Konsumen dalam Islamic Marketing

 

Apakah ada perbedaan antara Islamic Marketing dan Pemasaran Konvensional?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, selain memahami definisi Islamic Marketing, sebaiknya juga mengetahui beragam definisi Pemasaran. Selama dua abad terakhir, banyak Cendekiawan terkemuka telah menawarkan bermacam definisi untuk menjelaskan tentang Pemasaran. Beberapa definisi itu telah menjadi kiblat dari praktik-praktik pemasaran modern. Mereka antara lain seperti berikut.

#1 Adam Smith 1776

Konsumsi merupakan satu-satunya tujuan dari semua kegiatan produksi dan menjadi perhatian utama bagi eksistensi produk. Konsumsi harus dihidupkan selama mungkin dengan selalu menawarkan produk kepada konsumen (Ward, 2002).

#2 American Marketing Association 1948

Pemasaran adalah upaya dari aktivitas bisnis yang diarahkan, langsung dan tidak langsung, untuk mengalirkan barang dan jasa dari produsen kepada konsumen atau pengguna (Alom & Haque, 2011).

#3 American Marketing Association 1960

Pemasaran adalah upaya dari aktivitas bisnis yang mengarahkan aliran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen atau pengguna (Alom & Haque, 2011).

#4 Philip Kotler 1980

Pemasaran adalah aktivitas manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan (konsumen) melalui proses pertukaran (Ward, 2002).

#5 American Marketing Association 1985

Pemasaran merupakan proses untuk merencanakan dan mengeksekusi suatu konsepsi, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan ide-ide, barang-barang, dan jasa-jasa guna menciptakan pertukaran-pertukaran yang memuaskan keinginan individu dan organisasi (Alom & Haque, 2011).

#6 Philip Kotler 1991

Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial ketika individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka inginkan dan butuhkan, dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain (Ward, 2002).

#7 American Marketing Association 2004

Pemasaran adalah sebuah fungsi dari organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyampaikan nilai kepada konsumen, dan juga untuk mengelola hubungan dengan konsumen, melalui cara-cara yang menguntungkan organisasi dan para pemangku kepentingan (Alom & Haque, 2011).

#8 American Marketing Association (Juli 2013):

Pemasaran adalah suatu aktifitas, dari sejumlah entitas dan proses, untuk menciptakan, mengkomunikasikan, mengantarkan, dan menukarkan tawaran-tawaran bernilai kepada konsumen, relasi, mitra, dan masyarakat pada umumnya.

#9 Chartered Institute of Marketing (2015)

Pemasaran adalah proses manajemen yang menguntungkan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan konsumen.

#10 Kotler & Keller (2016):

Pemasaran dapat dijelaskan melalui sudut pandang manajemen dan sosial.

  • Manajemen pemasaran merupakan seni dan ilmu dalam memilih dan mendapatkan target konsumen, menjaga dan mengembangkannya; dengan menyampaikan dan mengkomunikasikan tentang nilai konsumen yang sangat berharga.
  • Pemasaran menjadi proses sosial ketika individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan, dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk dan layanan yang bernilai kepada pihak lain.

Lalu, apa kesamaan dari semua definisi itu? 

Definisi-definisi tersebut memberikan gagasan bahwa keinginan menjadi dasar dari praktik pemasaran konvensional, bukan pada kebutuhan (Alom & Haque, 2011). Pemasar yang ingin selalu memperoleh keuntungan dan Konsumen yang ingin terus merasakan kepuasan. Mereka tidak pernah merasa cukup, bahkan ketika kebutuhannya sudah terpenuhi. Pemasar berupaya memberikan kepuasan sebanyak mungkin kepada Konsumen, sehingga Pemasar memperoleh keuntungan yang maksimal (profit-maximization) dari Konsumen.

Dalam praktik Pemasaran Konvensional, Pemasar dituntut untuk dapat mengetahui dan memahami Konsumennya dengan baik (Drucker & Hague, 1975). Sehingga melalui aktivitas promosi yang masif, Pemasar dapat mereformasi, memodifikasi, serta memengaruhi keinginan, selera, permintaan dan pengeluaran Konsumen (Durning, 1992). Akibatnya, tercipta banyak keinginan Konsumen yang tidak beralasan dan melenceng jauh dari kebutuhannya (aplikasi dari ‘Konsumsi harus dihidupkan selama mungkin…’).

Lantas, apakah itu artinya ‘kebutuhan’ menjadi hilang? 

Tidak, ‘kebutuhan’ akan selalu ada, Pemasar hanya memengaruhi ‘keinginan’ secara intensif (Kotler et al. 2013). Untuk memengaruhi “keinginan”, Pemasar kerap menciptakan permintaan artifisial, yaitu dengan membuat produk-produk yang menarik, sesuai dengan selera, terjangkau harganya, dan mudah diperoleh dimana-mana. Aktivitas produksi kemudian hanya untuk memuaskan keinginan manusia saja (Sharif, 1996). Namun celakanya, memuaskan keinginan manusia hampir tidak pernah selesai waktunya.

Islamic Marketing mengusung gagasan yang berbeda dengan Pemasaran Konvensional. Yaitu, praktik pemasaran yang dianggap sebagai ibadah, maka implementasi ketakwaan kepada Allah menjadi kontrol bagi aktivitas-aktivitas Pemasar dan Konsumen dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka. Sehingga, Pemasar dan Konsumen tidak boleh melakukannya secara berlebih-lebihan (Qur’an 7:31; 6:141).

Untuk itu, Pemasar memastikan niatnya bahwa pemasaran bukan untuk memperoleh ketenaran atau menghasilkan keuntungan sebagai tujuan akhir (Noor, 2014). Melainkan, pemasaran digunakan untuk menyebarkan apa yang baik dan bermanfaat. Yaitu, Pemasar menawarkan solusi nyata yang berharga kepada Konsumen, sehingga Pemasar memperoleh nilai yang maksimal (value-maximization) dari Konsumen.

Sedangkan pada sisi yang lain, Konsumen memperhatikan perilakunya untuk tidak membelanjakan uangnya melebihi kebutuhan (Qur’an 25:67). Namun bukan pula, Konsumen lalu menjadi ‘pelit’ terhadap uangnya, dengan mengurangi apa yang memang sudah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupannya. Aktivitas konsumsi ditempatkan pada posisi pertengahan yaitu, tidak kikir, tidak menahan, tidak berlebihan, dan tidak boros (Qur’an 17:29).

Kesamaan lainnya dari definisi-definisi di atas yaitu, bahwa pertukaran (exchange) adalah jantung dan prinsip dasar dari Pemasaran Konvensional (Alom & Haque, 2011; Bagozzi, 1975; Hunt, 1976). Dalam sistem pemasaran yang sederhana, proses pertukaran terjadi ketika Pemasar menyerahkan produk dan menyampaikan pesan (promosi dan iklan) kepada Konsumen, lalu sebagai gantinya Konsumen menyerahkan uang dan mengirimkan informasi (perilaku dan data penjualan) kepada Pemasar.

Dalam proses pertukaran, Pemasar bebas menawarkan segala jenis produk, begitu pula dengan Konsumen yang bebas untuk memilihnya. Tidak masalah, apakah produk tersebut bermanfaat atau berbahaya. Jika Pemasar dan Konsumen telah saling percaya (trust) dan komitmen (commitment) dalam proses pertukaran, maka mereka telah melakukan aktivitas pemasaran dengan benar.

Islamic Marketing berbeda dengan Pemasaran Konvensional dalam proses pertukaran. Karena Islamic Marketing melibatkan juga Allah, selain Pemasar dan Konsumen, dalam proses tersebut. Pemasar dan Konsumen melakukan ‘proses pertukaran’ dengan-Nya. Pemasar dan Konsumen menyerahkan keimanan (faith) dan melaksanakan ketaqwaan (God-consciousness), sedangkan Allah memberikan petunjuk (guidance) dan keridhaan-Nya (approval). Selain itu, Pemasar bertanggung jawab untuk memastikan semua produk yang ditawarkan kepada Konsumen atau masyarakat adalah halal dan/atau tayyib, serta tidak akan merugikan atau membahayakan mereka. Syari’ah memandu jenis-jenis produk apa saja yang boleh dan tidak boleh dipasarkan oleh Pemasar dan dikonsumsi oleh Konsumen.

 

Referensi

Alom, M. M., & Haque, M. S. (2011). Marketing: an Islamic perspective. World Journal of Social Sciences, 1(3), 71-81.

Bagozzi, R. P. (1975). Marketing as Exchange. Journal of Marketing, 39(4), 32.

Chartered Institute of Marketing. (2015). Marketing and the 7Ps: A brief summary of marketing and how it works. Retrieved from https://www.cim.co.uk/media/4772/7ps.pdf

Drucker, P., & Hague, D. C. (1975). Management. Tasks, Responsibilities, Practices. The Economic Journal, 85(337), 195. doi:10.2307/2230551

Durning, A. T. (1992). How much is enough? : the consumer society and the future of the earth (1st ed.). New York: New York : Norton.

Hunt, S. D. (1976). The Nature and Scope of Marketing. Journal of Marketing, 40(3), 17.

Kotler, P., & Keller, K. (2016). Marketing management (15 ed.): Boston : Pearson Education Inc., 2016.

Kotler, P., Keller, K. L., Koshy, A., Jha, M., & Pearson, E. (2013). Marketing Management: A South Asian Perspective. New Delhi: Pearson Education.

Noor, N. (2014). 40 Hadith Reflections on Marketing & Business: Nurhafihz Noor.

Sharif, M. R. (1996). Guidelines to Islamic Economics: Nature, Concepts, and Principles: International Institute of Islamic Thought (IIIT).

Ward, T. (2002). Introduction to marketing Entrepreneurship Development Module. http://www-users.york.ac.uk/~aew6/Courses/CE%20Module/welcome.htm : University of York.

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Islamic Marketing versus Pemasaran Konvensional," in ISLAMIC MARKETING, April 14, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/04/14/islamic-marketing-konvensional/.
Islamic Marketing versus Pemasaran Konvensional
Follow me

Leave a Reply