Bagaimana Islam Memandang Praktik Pemasaran?

Contoh praktik pemasaran
Cairo, Egypt: Cairo locals walk the market street of Islamic Cairo. © Vyacheslav Argenberg / http://www.vascoplanet.com/ / CC BY

 

Secara historis, praktik-praktik pemasaran bukan sesuatu yang ‘asing’ bagi umat Muslim. Karena sejak lebih dari 14 abad yang silam, Rasulullah Sallā Allāhu ʿalayhi wa-ʿala āli-hi wa-sallam dan umat Muslim generasi awal sangat lazim menjalankan bisnis dan perdagangan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, maupun untuk memperoleh kemandirian finansial. Dari banyak literatur tentang sejarah perkembangan Islam menyebutkan bahwa mereka begitu mahir memasarkan berbagai barang dan jasa. Mereka, ternyata, telah menerapkan berbagai konsep dan praktik pemasaran seperti yang biasa dilakukan oleh para Pemasar modern saat ini, seperti ketika menetapkan harga, memilih produk, memilih distribusi atau logistik, melakukan komunikasi, menghitung keuntungan atau kerugian, dan menjalankan manajemen (Noor, 2014).

Hal tersebut kemudian telah menjadikan Islam dan dunia Muslim sebagai kekuatan utama dalam perdagangan internasional selama lebih dari 600 tahun (dari sekitar 640 hingga 1260 Masehi). Pada masa itu, peradaban Islam berada di garis depan panggung ekonomi dunia. Islam juga sudah melakukan lompatan jauh dalam aktivitas-aktivitas ekonomi seperti, pemberlakuan hukum dagang, perluasan hak milik untuk wanita, larangan penipuan, penetapan standar berat dan ukuran yang jelas, dan pembelaan terhadap hak-hak milik tanpa kompromi sambil menyerukan tanggung jawab yang lebih besar untuk meringankan beban kaum miskin dan yang membutuhkan.

Beberapa ekspedisi yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Muslim bahkan menjadi cerita yang melegenda. Salah satunya adalah Zheng He (Cheng Ho). Dia adalah seorang Muslim-Tiongkok yang memimpin tujuh ekspedisi perdagangan maritim ke Samudra Barat dan berhasil mengunjungi lebih dari 30 negeri pada abad ke-15. Dia membawa teh, sutera, dan porselen serta membantu orang-orang lokal melawan bajak laut. Dia melakukannya secara damai dan penuh persahabatan. 

Hingga kini, perdagangan masih merupakan keterampilan yang ‘turun-temurun’ dan menjadi aktivitas yang ‘lumrah’ dalam budaya Islam. Fenomena seperti itu dapat dilihat di banyak negara Muslim. Negara-negara yang kaya akan minyak dan gas di Timur Tengah terus mengandalkan pertumbuhan ekonominya dari hasil perdagangan komoditas itu. Namun, beberapa dari mereka sudah mulai menggeser orientasinya dari transaksi komoditas yang konvensional menjadi praktik bisnis lainnya yang modern, setelah menyadari cadangan minyak dan gas yang terus menipis di berbagai daerah — seperti yang dilakukan oleh Uni Emirat Arab (UEA).

Secara ideologis, Islam memberikan perhatian istimewa terhadap praktik pemasaran dan perdagangan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu inti dari perilaku yang Islami. Karena tidak sehari pun atau bahkan momen, seorang Muslim menjalani kehidupannya tanpa terlibat dengan pasar dan/atau praktik pemasaran seperti, berbagi, bekerja, bertukar, membeli, menjual, menggunakan, melayani, merekrut, membuat merek, menetapkan harga, menyebarkan iklan, pemasaran digital, melakukan distribusi, dan lainnya. Oleh karenanya,  Qur’an dan Hadits memberi tuntunan dan pedoman khusus tentang hal tersebut. Islam juga memotivasi Muslim agar menjadikan bisnis sebagai profesi dan menghasilkan uang melalui perdagangan (Qur’an 4:29). Islam memandang bahwa bisnis dan perdagangan merupakan salah satu pekerjaan yang terhormat (Taudhihul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Kitab Al-Buyu’ hadits nomor 660).

“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu”
-Qur’an 4:29

Qur’an menyebut banyak kata yang berkaitan dengan perdagangan, membeli, menjual, dan transaksi. Dr. Mohammad Shafi menemukan bahwa kata-kata itu disebutkan dalam Qur’an sebanyak 117 kali dengan 6 variasi kata (2000). Mereka adalah:

  1. Ishtira yang diartikan sebagai “membeli” atau “menukar” contoh Al-Baqarah ayat 174 dan 175;
  2. Bai’ yang diartikan sebagai “menjual”, “membeli dari” atau “melakukan transaksi dengan” contoh Al-Baqarah ayat 282 dan Ibrahim ayat 31;
  3. Tijarah. yang diartikan sebagai “perdagangan” atau “transaksi” contoh Faathir ayat 29, An-Nisaa’ ayat 29 dan 30;
  4. Fulk. yang diartikan sebagai “perkapalan”, “perdagangan”, atau “kapal penumpang” contoh Al-Baqarah ayat 164 dan Ar-Rum ayat 46;
  5. Kaal dan Wazan. yang diartikan sebagai “mengukur” dan “menimbang” contoh Al-Israa ayat 35, Al-Mutaffifin ayat 1-3, dan Ar-Rahman 7-9;
  6. Saiyr. yang diartikan sebagai “berpindah”, “berangkat”, “bepergian” contoh Al-Mu’min ayat 82 dan Al-Hajj ayat 46.

Sedangkan, Alserhan (2016) berhasil mengidentifikasi 18 kata dasar bahasa Arab yang berhubungan dengan aktivitas komersial yang disebutkan lebih dari 200 kali dalam Qur’an (lihat Tabel 1).

 

Tabel 1 Beberapa kata yang berhubungan dengan perdagangan dalam Quran

Kata dan turunannya yang menggunakan akar kata bahasa Arab atau kata itu sendiriFrekuensi atau berapa kali disebutkan dalam quran
Invite (Da’aa)218
Spend (Anfaqa)72
Weigh (Wazana)
Weight (Mizan)
Measure (Kai’l)
39
Satisfaction (Razi’a)30
Win (Faza)26
Purchase (Eshtara)25
Price (Thaman)11
Product (Biza’ah)
Offer (Araza)
11
Commerce (Tijara)9
Sale (Ba’aa)9
Usury (Riba) (interest rate)8
Lend (Aqraza)7
Loan (Qard)6
Borrower (Modeen)2
Competition (Nafa’sa)2
Market (Souq)2
Delegate (Fawaza)1
Profit (Rabi’ha)1

 

Sementara itu, ayat terpanjang dalam Qur’an adalah yang berkaitan dengan transaksi bisnis non-tunai, yaitu pada surat Al Baqarah ayat 282:

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwa-lah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selain itu, terdapat ratusan hadits yang menggambarkan dan menjelaskan perihal bagaimana praktik-praktik pemasaran dan bisnis yang sesuai dengan Islam. Magnum opus tentang hal tersebut dirangkum oleh Imām al-Bukhārī rahimahullāh dalam Sahih Al-Bukhari dan Imām Muslim ibn al-Hajjaj al-Naysaburi rahimahullah dalam Sahih Muslim (Noor, 2014). Sahih Al-Bukhari mencatat sebanyak 210 hadist yang terbagi dalam Kitab Al-Buyu’ (192 hadist, nomor 2047 – 2238) dan Kitab As-Salam (17 hadits, nomor 2239 – 2256). Sementara Sahih Muslim mencatat sejumlah 103 hadits yang terbagi dalam Kitab Al-Buyu’ (40 hadits, nomor 1511 – 1550) dan Kitab Al-Musaqah (63 hadits, nomor 1551 – 1613).

Islam memandang bahwa segala praktik pemasaran atau bisnis, seperti produksi, distribusi, konsumsi, dan transaksi, merupakan bagian dari sebuah ibadah yang harus mengikuti batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syari’ah (Qur’an 2:30; 5:4; 5:48; 7:32). Kegiatan tersebut senantiasa mengedepankan prinsip, “Tidak boleh menyebabkan atau meninggalkan kerusakan” (Ibnu Mâjah, nomor 2340). Sehingga, setiap entitas yang terlibat dalam pemasaran memiliki tanggung jawab etis kepada Allah (Saeed et al, 2001). Karenanya, pemasaran lalu diniatkan untuk menyebarkan produk-produk yang baik dan berguna, dengan menawarkan solusi nyata dan berharga.

 

Referensi

Alserhan, B. A. (2016). The Principles of Islamic Marketing (2nd ed.): Farnham : Taylor and Francis, 2016.

Noor, N. (2014). 40 Hadith Reflections on Marketing & Business: Nurhafihz Noor.

Saeed, M., Ahmed, Z. U., & Mukhtar, S. M. (2001). International Marketing Ethics from an Islamic Perspective: A Value-Maximization Approach. Journal of Business Ethics, 32(2), 127-142. doi:10.1023/a:1010718817155

Shafi, M. (2000). Business and Commerce in the Qur’an: First written for Dar al Islam Teachers’ Institute Alumni News Letter.

Cite this article as: Coky Fauzi Alfi, "Bagaimana Islam Memandang Praktik Pemasaran?," in ISLAMIC MARKETING, March 14, 2020, https://islamicmarketing.xyz/2020/03/14/islam-memandang-praktik-pemasaran/.
Bagaimana Islam Memandang Praktik Pemasaran?
Follow me

Leave a Reply